SEA Games 2019

DPR RI Desak Kemenpora Investigasi Kasus Shalfa, Atlet SEA Games yang Dituduh Tidak Perawan

DPR RI Desak Kemenpora Investigasi Kasus Shalfa, Atlet SEA Games yang Dituduh Tidak Perawan

Penulis: Didik Mashudi | Editor: eko darmoko
suryamalang.com/didik mashudi
Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar bersama anggota DPR RI Abdul Hakim Bafaqih (kiri) dan pengacara Imam Muklas di rumah dinas Walikota, Minggu (1/12/2019). 

SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Anggota Komisi X DPR RI Abdul Hakim Bafaqih bakal mempertanyakan kejadian yang menimpa Shalfa Avirila Sania (17), atlet senam SEA Games 2019 asal Kota Kediri yang difitnah tim pelatihnya sudah tidak perawan.

"Kami akan menanyakan masalah ini langsung ke Kemenpora sebenarnya ada apa di dalam tubuh KONI. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi," tandas Abdul Hakim Bafaqih, usai menemui Shalfa dan keluarganya di rumah dinas Wali Kota Kediri, Minggu (1/12/2019).

Diungkapkan, tudingan yang diterima atlet senam asal Kota Kediri sangat memprihatinkan.

"Anaknya masih muda dan punya prestasi 49 medali yang diraih mulai kelas 2 SD sampai sekarang," jelasnya.

Abdul Hakim Bafaqih telah melihat tayangan vidio saat Shalfa bertanding juga memiliki performa yang bagus.

"Jangan sampai karena hal-hal yang tidak jelas sudah diserang soal tidak perawan," ungkapnya.

Diharapkan ke depan atlet yang mendapatkan pembinaan KONI dapat berlatih lebih nyaman. Jangan sampai proses mau bertanding saja sudah dipersulit.

"Kejadian seperti ini jangan sampai dialami oleh atlet lainnya," jelasnya.

Sehingga pihak Kemenpora yang merupakan mitra dari Komisi X harus melakukan investigasi kasus pemulangan Shalfa, atlet senam artistik. Karena pemulangan atlet telah menjadi polemik di masyarakat, yang merugikan atlet dan keluarganya.

Kemenpora juga harus mempertemukan pihak-pihak yang berkepentingan dalam peristiwa ini, agar kesimpang-siuran informasi bisa terklarifikasi.

“Adik Shalfa masih sangat muda, usianya baru 17 tahun, ia berhak meraih masa depannya. Saya mendengar ia sudah tidak mau menjadi atlet senam dan malu untuk kembali ke sekolah. Jangan sampai permasalahan ini menghancurkan masa depannya,” ungkapnya.

Untuk itu Abdul Hakim Bafaqih akan berkomunikasi dengan pihak Kemenpora, tidak dalam rangka intervensi, tapi menanyakan kepada Menteri Pemuda dan Olah Raga.

"Karena dari media saya mendapatkan informasi yang berbeda, antara pengakuan orang tua atlet dan tim pelatih,” jelasnya.

Dikatakan, pencoretan pemain memang menjadi hak pelatih, kalau alasannya karena indisipliner. Apakah tahapan peringatan ini sudah pernah dilakukan.

Namun kalau alasannya karena faktor keperawanan, merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

"Bagaimana bisa seorang atlet dicoret karena tidak perawanan. Tapi ini pengakuan ibunya, maka kami perlu mendengar dari pelatih apa benar alasan ini yang dipakai untuk mencoret," tanya Abdul Hakim Bafaqih.

Sementara Imam Muklas, pengacara keluarga Shalfa berterima kasih kepada Wali Kota dan Abdul Hakim Bafaqih, anggota DPR RI Komisi X karena mendapatkan dukungan yang menjadi semangat dan modal penting untuk memperjuangkan hak-hak atlet Shalfa.

"Terima kasih atas dukungan yang telah diberikan kepada atlet Shalfa," jelasnya.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved