Wanita Tewas Membeku Gara-gara Pakai Kipas Angin Saat Tidur, Efek Perubahan Cuaca di Asia Tenggara

Seorang wanita tewas membeku gara-gara pakai kipas angin saat tidur, efek dari perubahan cuaca ekstrim di Asia Tenggara.

Oriental Daily
wanita tewas membeku gara-gara pakai kipas angin 

SURYAMALANG.COM - Seorang wanita tewas membeku gara-gara pakai kipas angin saat tidur.

Tak hanya itu, wanita tersebut juga diketahui tidur mengenakan pakaian tipis dan celana pendek.

Identitas wanita tewas membeku gara-gara pakai kipas angin itu diketahyi bernama Gu Song, seorang warga Thailand.

Ia ditemukan di Chaiyaphum, salah satu provinsi utara di Thailand.

Diketahui saat ini Thailand dan beberapa area di Asia Tengara tengah mengalami perubahan cuaca ekstrim.

Bahkan beberapa bagian di negara Thailand dilaporkan mengalami penurunan suhu di bawah 10 derajat celsius,

Akibatnya Wanita yang berusia 57 tahun itu dikabarkan harus kehilangan nyawanya lantaran membeku dan kedinginan.

wanita tewas membeku
wanita tewas membeku (Oriental Daily)

Petugas polisi menerima laporan tersebut pada Rabu (11/12/2019) pagi, dikutip SURYAMALANG dari Orientaly Daily.

Menurut laporan yang didapatkan kepolisian wanita yang benama Gu Song itu, ditemukan dalam kondisi mengenakan celana dan baju pendek tanpa selimut.

Tubuhnya kaku lantaran perubahan suhu dan sebuah kipas yang dibiarkan menyala.

Sementara adik Gu Song yang melaporkan kejadian itu kepada pihak polisi, mengaku terkejut menemukan kakaknya tak bernyawa.

Ia mengungkapkan bahwa Gu Song tidur seperti biasanya, setelah meminum alkohol.

Hanya saja pada saat pagi datang, Gu Song tak bangun untuk memasak seperti biasanya.

Saat dibangunkan, ternyata Gu Song telah membeku dan kaku.

Sampai saat ini kepolisian masih menduga kasus ini disebabkan perubahan cuaca yang begitu ekstrem.

Sebab tak hanya Gu Song, sebelumnya Menteri Kesehatan di Thailand telah mencatat empat orang dikabarkan tak bernyawa dalam keadaan beku.

Sementara itu, pihak kesehatan mengimbau agar masyarakat untuk tetap menjaga suhu tubuhnya dalam cuaca yang ekstrem ini.

Masyarakat diminta untuk terus menjaga dan memastikan tubuhnya memiliki suhu yang seimbang dan stabil.

Kisah Mati Beku yang Lain

Peristiwa mati membeku pernah terjadi juga di beberapa negara, namun untungnya orang-orang di bawah ini masih bisa diselamatkan.

Yang pertama adalah Jean Hilliard yang sempat mati membeku setelah mobilnya mogok.

Saat itu minus 22 derajat Celcius pada malam Desember tahun 1980 ketika mobil Jean Hilliard yang berusia 19 tahun tergelincir di pinggir jalan di Lengby, Minnesota.

Remaja itu sedang dalam perjalanan pulang ke rumah orangtuanya dan mengenakan mantel, sarung tangan, dan sepatu bot koboi.

Mobil itu benar-benar mogok, lalu ia memutuskan untuk berjalan ke rumah teman terdekat. Ia pingsan hanya 4,5 meter dari pintu ketika hipotermia menyerangnya.

Temannya, Wally Nelson, menemukannya pada pagi hari berikutnya. Hilliard membeku.

“Saya mencengkeram kerah bajunya dan menyelinap ke teras. Saya pikir dia sudah mati."

"Membeku lebih kaku daripada papan, tetapi saya melihat beberapa gelembung keluar dari hidungnya,” ungkap Nelson dalam wawancara Radio Publik Minnesota 2018.

Ketika Hilliard akhirnya berhasil sampai ke rumah sakit, denyut nadinya 12 denyut per menit dan suhu tubuhnya 31 derajat Celcius.

Staf medis mencairkan Hilliard dengan selimut pemanas listrik, dan selama beberapa jam berikutnya Hilliard pun pulih sepenuhnya.

Ilustrasi jantung membeku
Ilustrasi jantung membeku (Intisari)

Selain itu ada juga Justin Smith, 25, dari Pennsylvania, pernah bercengkerama dengan teman-temannya pada suatu malam di tahun 2016, ketika dia secara teknik kehilangan nyawanya.

Kelompok itu minum-minum dan kemudian kehilangan jejak satu sama lain.

Smith ditemukan tak sadarkan diri di pinggir jalan keesokan paginya tertutup salju dan tubuhnya biru, ia berada di suhu di bawah nol selama lebih dari 12 jam.

Mengetahui putranya itu tidak memiliki denyut nadi atau tekanan darah, ayah Smith merasa tidak memiliki harapan atas hidup anaknya lagi.

Gerald Coleman, DO, sedang bekerja di UGD Rumah Sakit Lembah Lehigh ketika Smith masuk, dan ia tidak siap untuk menyerah.

“Pemikiran klinis saya sederhana: Anda harus hangat untuk mati,” katanya.

Dr. Coleman mengaitkan Smith dengan mesin oksigenasi membran ekstra-korporeal (ECMO), alat ini memompa dan mengoksigenasi darah pasien, melakukan pekerjaan jantung dan paru-paru.

Suhu inti Smith mulai menghangat, meskipun ia harus kehilangan jari-jari kaki dan dua jari tangannya.

Selama beberapa minggu berikutnya, Smith pun pulih total. “Ketika Anda memiliki suhu yang sangat rendah, sangat penting menjaga otak dan fungsi organ lainnya.” Kata James Wu, MD.

Penulis: Raras Cahyaning Hapsari
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved