Malang Raya

Warga Malang Raya Memendam Kekecewaan Karena Kasus Korupsi yang Menyeret Nama Tiga Kepala Daerah

Warga Malang Raya Memendam Kekecewaan Karena Kasus Korupsi yang Menyeret Nama Tiga Kepala Daerah

Warga Malang Raya Memendam Kekecewaan Karena Kasus Korupsi yang Menyeret Nama Tiga Kepala Daerah
suryamalang.com/benni indo
Pengamat Pemerintahan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Brawijaya, Wawan Sobari Ph D. 

SURYAMALANG.COM, BATU – Pengamat pemerintahan dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Wawan Sobari Ph D menerangkan kalau Kota Batu terdongkrak popularitasnya sebagai kota wisata karena kepemimpinan sebelumnya.

Sedangkan untuk kepemimpinan saat ini, Wawan menilai hanya melanjutkan saja. Belum ada gebrakan yang berbeda dari Wali Kota Dewanti Rumpoko dibanding wali kota sebelumnya.

“Ya bagi saya, Batu terdongkrak oleh kepemimpinan sebelumnya. Komitmen sebagai kota wisata sudah bagus, tapi itu pemerintahan sebelumnya,” ujar Wawan belum lama ini kepada SURYAMALANG.COM.

Menurut Wawan, publik Malang Raya termasuk Kota Batu, masih memendam kekecewaan karena kasus korupsi yang mengakibatkan tiga kepala derah di Malang Raya mendekam di penjara. Dengan adanya pergantian kepala daerah, masyarakat memiliki harapan tinggi akan pemerintahan yang bersih dan inovatif.

“Kalau Malang Raya yang jelas masih menyisakan kekecewaan publik terhadap kasus korupsi. Sebenarnya di 2019, di Kabupaten Malang pergantian bupati dan pengangkatan wakil. Itu konsekuensi kasus korupai yang menjerat termasuk di Kota Batu. Kalau secara pencitraan, citra pemerintahan tidak menguntungkan,” terangnya.

Kasus korupsi juga telah mencoreng nama Pemkot Malang. Apalagi kasus korupsi di Kota Malang telah menyeret wali kota dan mayoritas anggota dewan.

Bicara konteks Kota Malang, Wawan mengatakan berdasarkan data dari hasil penelitian yang dilakukannya, masyarakat Kota Malang ingin suatu perubahan ketika wali kota dijabat Sutiaji.

“Ada data riset bagaimana masyarakat itu mayoritas pemilih Sutuaji karena menanamkan perubahan. Perubahan tidak terjebak dalam tata kelola yang buruk, tapi juga bagaimana mengelola hal lainnya. Perubahan itu juga diharapkan terjadi di DPRD Kota Malang,” terangnya.

Wawan menilai, Sutiaji sering jadi antitesis di pemerintahan sebelumnya. Malah di awal pemerintahan, banyak warga yang melakukan protes karena jalan berlubang. Sampai akhirnya Sutiaji tidak berani ambil diskresi.

“Itu memang tantangan yang tidak mudah. Terus ada kasus jembatan. Sebetulnya dinas itu sudah tahu kapan masa jembatan, tapi anggaran tidak tersedia sehingga jadi aneh,” katanya.

Halaman
12
Penulis: Benni Indo
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved