Malang Raya

Refleksi Akhir Tahun, Fisip UB Malang Bahas Ancaman Radikalisme di Indonesia

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Refleksi akhir tahun diselenggarakan oleh Fisip Universitas Brawijaya (UB) Malang, Senin (30/12/2019).

Refleksi Akhir Tahun, Fisip UB Malang Bahas Ancaman Radikalisme di Indonesia
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Kegiatan refleksi akhir tahun tentang radikalisme di Fisip Universitas Brawijaya Malang, Senin (30/12/2019). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Refleksi akhir tahun diselenggarakan oleh Fisip Universitas Brawijaya (UB) Malang, Senin (30/12/2019). Panelisnya akademisi fisip adalah Dr Ali Maksun MAg MSi, Ali Mashuri SPsi MSc PhD dan Rachmat Kriyantono PhD.

"Di Fisip UB banyak pakar di bidang sosial politik. Semoga bisa mencerahkan masyarakat. Dan bagi pengambil kebijakan mungkin juga perlu masukan," kata Prof Dr Unti Ludigdo Ak, Dekan Fisip UB.

Apa yang disuarakan akademisi dengan kejernihan pandangannya diharapkan bisa memberikan sesuatu yang positif buat negara. Dosen Komunikasi Rachmat Kriyantono menyatakan ada sejumlah pengertian tentang radikalisme.

Dalam konteks NKRI, maka radikalisme adalah ideologi/gerakan yang mengafirkan orang lain yg tidak sejalan, ingin memgubah dasar negara.

Sedang dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) menambahkan ciri yaitu orang yang ingin perubahan secara cepat dengan kekerasan, paham yang mendukung, menyebarkan dan mengajak seperti anggota ISIS dan negara Islam serta mendefinisikan jihad scr terbatas. Tindakan kekerasan yang dilakukan disebut terorisme. Penyebaran paham, lanjutnya, lewat internet sebagai bentuk komunikasi.

Maka Kemenkominfo telah melakukan pemblokiran pada konten-konten radikal. Pada 2018 ada 10.449 meningkat menjadi 11.800 pada 2019. Dikatakan, terjadinya peningkatan komunikasi di media sosial dalam penyeberan paham radikal meningkat dan sulit dihalau.

"Hal ini karena media sosial sifatnya tanpa batas, komunikasinya bebas dan cepat serta mudah dibuat," kata dia.

Di satu sisi, situs-situs ormas seperti NU dan Muhammadiyah malah jarang dilihat dibanding situs-situs hoaks dan radikalisme.

"Ini karena tingkat literasi masih rendah," ujarnya.

Sepanjang 2019, Kemenkominfo merilis ada 800.000 situs hoaks. Dan di sisi lain sebanyak 44 persen masyarakat belum bisa membedakan mana hoaks dan bukan.

Halaman
123
Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved