Sidang Pembunuhan Begal di Malang

Kepala Sekolah ZA Buka-Bukaan Kepribadian Pelajar yang Terjerat Hukum karena Pembunuhan Begal itu

Terkait proses hukum yang sedang dijalani ZA, pihak sekolah menghormati segala proses hukum dan menyerahkannya pada pihak berwenang.

Penulis: Mohammad Erwin | Editor: Dyan Rekohadi
TribunJatim.com/Kukuh Kurniawan
ZA saat duduk di dalam persidangan saat akan dimulai persidangan dengan agenda pembacaan tuntutan dari JPU, Selasa (21/1/2020). JPU menuntut pembinaan 1 tahun bagi ZA, tak ada tuntutan dari pasal pembunuhan 

SURYAMALANG.COM, KEPANJEN - Tempat sekolah ZA di Malang membenarkan, ada pelajaran prakarya membuat stik es krim

Pelajaran keterampilan tersebut dilakukan pada tanggal 5 September 2019.

Atas pelajaran itu, ZA beralasan membawa pisau ke sekolah. 

BREAKING NEWS : ZA Hanya Dituntut 1 Tahun Pembinaan Untuk Pasal Penganiayaan

Daftar Identitas Korban yang Ditabrak Mobil Polisi di Kota Malang

Polres Malang Janji Tangkap Pelaku Pembalakan Liar di Hutan Lindung Pantai Sendiki, Kabupaten Malang

"Di sekolah kami memang ada pelajaran prakarya atau membuat karya. Semua kelas ada, mulai kelas 1, 2 dan 3. Jenisnya yang diajarkan  banyak, ada seni patung, seni merajut, seni budaya dan berbagai kesenian lainnya," beber kepala sekolah, ketika ditemui di ruangannya, Selasa (21/1/2020).

Terkait proses hukum yang sedang dijalani ZA, pihak sekolah menghormati segala proses hukum dan menyerahkannya pada pihak berwenang. 

Pejabat sekolah yang enggan disebutkan namanya itu menjelaskan, pihaknya sudah mengetahui awal mula kasus pembunuhan begal yang terjadi pada 8 September 2019 itu.

Meski anak didiknya berurusan hukum, pihak sekolah lantas tidak mengeluarkan ZA dari sekolahnya.

Kala itu, ZA masih rutin melakukan wajib lapor di Polres Malang

"Tanggal 19 September 2019, yang bersangkutan dipindah ke salah satu sekolah SMA swasta di sini (Malang). Kami ingin ZA tetap mendapat pendidikan. Sudah kami proses mutasi saja, kalau bisa titip belajar sampai lulus," ungkapnya.

Ketika ditanya ZA sudah memiliki keluarga, pihak sekolah juga membenarkan.

Istri ZA adalah siswi yang bersekolah di sekolah tersebut.

"Pernikahan itulah yang mengarah pada pengunduran itu. Kami keluarkan (siswi) sehingga bisa menjadi shock therapy. Alias peringatan bagi siswa lain," katanya.

Selama mengenal ZA, sang kepala sekolah menilai ZA adalah anak yang ganteng.

Meski tak terlalu menojol dalam segi akademis, ia menilai kemampuan akademis ZA bisa ditingkatkan.

"Anaknya ganteng. Tapi akademisnya bisa lebih baik jika terus belajar," ungkapnya. 

Pihak sekolah berharap, penegak hukum dapat memproses secara adil kasus yang menjerat ZA.

"Gurunya sudah memberikan kesaksian. Sebelum memberikan kesaksian, disumpah juga. Jadi saksi saat di persidangan. Kami tidak menghalangi proses hukum," ujarnya. 

Di sis lain, siswa yang pernah mengenal ZA menilai, ZA adalah sosok yang tenang dan sering bersosialisasi. Ketika mengikuti kompetisi futsal di sekolah, ZA selalu ikut.

"Anaknya tenang dan tegas. Kelihatan saat main futsal saat ada class meeting. Saya gak kenal banget sih. Tapi melihatnya seperti itu," ujar salah satu murid pria berinisial F itu. 

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved