Breaking News:

Sidang Pembunuhan Begal di Malang

Disebut untuk Membina ZA, LKSA Darul Aitam Ungkapkan Tidak Ada Metode Khusus Dalam Pembinaan ABH

Tidak ada metode khusus dalam melakukan pembinaan kepada Anak Berhadapan Hukum (ABH) di LKSA Darul Aitam yang beralamat di Jalan Raya Klakah RT 1 RW 1

TribunJatim.com/Kukuh Kurniawan
Salah satu anak yang dibina di LKSA Darul Aitam yang beralamat di Jalan Raya Klakah RT 1 RW 1 Desa Patokpicis Kecamatan Wajak Kabupaten Malang saat melakukan kegiatan bersih bersih kamar. 

SURYAMALANG.COM, WAJAK - Nama Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Aitam disebut dalam sidang tuntutan kasus ZA, pelajar SMA yang tusuk begal.

Dalam persidangan JPU Selasa (21/1/2020) menuntut ZA untuk menjalani pembinaan selama satu tahun di (LKSA) Darul Aitam.

Seperti apakah pola pembinaan yang diterapkan di (LKSA) Darul Aitam ?

Minta ZA Diputus Bebas di Kasus Begal, Kuasa Hukum : Ontslag van Rechtvervolging Layak Diberikan

Muncul Nama German Ariel Rivero Sebagai Striker Bidikan Arema FC, Terbang ke Indonesia Pekan Depan

Jelang Putusan Bagi ZA, Pakar Hukum Pidana UB, Prijo Sujatmiko Dukung Polisi & Jaksa

Tidak ada metode khusus dalam melakukan pembinaan kepada Anak Berhadapan Hukum (ABH) di LKSA Darul Aitam yang beralamat di Jalan Raya Klakah RT 1 RW 1 Desa Patokpicis Kecamatan Wajak Kabupaten Malang.

"Di sini tidak sama sekali memakai metode khusus dalam membina ABH. Hanya memakai konsep program pembiasaan dan pendekatan," ujar pengurus harian LKSA Darul Aitam, Surono kepada TribunJatim.com (GRUP SURYAMALANG.COM), Rabu (22/1/2020).

Ia pun menjelaskan konsep program pembiasaan dan pendekatan yang digunakan untuk membina ABH.

"Jadi program tersebut adalah mengajak anak untuk salat berjamaah, mengaji dan melafalkan ayat suci Al Quran lalu melakukan pendekatan dengan memberikan berbagai nasihat positif agar anak tidak kembali melakukan perilaku negatifnya," tambahnya.

Dan melalui cara tersebut, banyak ABH yang dibina di tempat tersebut menjadi baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

"Alhamdulillah kalau kita persentase kan, kesuksesan pembinaan dengan cara itu mencapai 60 persen," tambahnya.

Namun ia menambahkan bahwa cara pembinaan itu juga tidak serta merta dapat berhasil. Bahkan ia pun mengakui bahwa ada beberapa anak yang gagal dibina dengan cara tersebut.

"Memang sebenarnya yang membuat anak menjadi baik dan berkeinginan untuk menjalani cara pembinaan tersebut adalah dari kemauan sang anak itu sendiri. Kalau tanpa didukung dari keinginan sang anak itu sendiri bisa dipastikan cukup sulit untuk melakukan pembinaan," pungkasnya.

Penulis: Kukuh Kurniawan
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved