Breaking News:

Sidang Pembunuhan Begal di Malang

Pendapat Ahli Hukum Pidana UB Soal Vonis Kasus Siswa SMK Bunuh Begal di Malang

Sebelum membahas dan menganalisis putusan kasus siswa SMK bunuh begal di Malang, sebaiknya membahas beberapa hal terlebih dahulu.

SURYAMALANG.COM/Kukuh Kurniawan
Saksi ahli hukum pidana UB, Lucky Endrawati 

SURYAMALANG.COM, KEPANJEN – Siswa SMK bunuh begal berinisial ZA (17) divonis setahun pembinaan dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Kabupaten Malang

Ahli hukum pidana Universitas Brawijaya (UB), Lucky Endrawati mengatakan sebelum membahas dan menganalisis putusan tersebut, sebaiknya membahas beberapa hal terlebih dahulu.

“Pertama, sidang dilakukan secara tertutup karena pelaku adalah anak. Tapi di surat dakwaan, jaksa tidak merujuk atau men-jucto ke UU 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).”

“Kedua, tentang Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berrencana atau Pasal 338 tentang pembunuhan juga tidak cermat.”

“Tujuan pasal tentang pembunuhan, tujuan akhirnya untuk membunuh. Sedangkan pelaku melakukan perbuatan itu untuk pembelaan karena darurat yang melampaui batas sesuai Pasal 49 ayat (2).”

“Dalam kasus ini, pelaku mengalami guncangan jiwa yang hebat karena adanya ancaman atau serangan dari para begal.”

“Ketiga, ada alasan pemaaf sehingga pelaku melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan jaksa.”

“Jadi ada alasan untuk menghapus tindak pidana pelaku,” ujar Lucky kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (23/1/2020).

Menurutnya, tuntutan yang telah dibacakan jaksa juga tidak sesuai atau tidak linear dengan dakwaan yang diajukan oleh pihak jaksa sendiri.

“Yang paling mencolok adalah tuntutan berupa pembinaan selama setahun. Padahal jaksa tidak pernah menyinggung UU 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).”

Halaman
12
Penulis: Kukuh Kurniawan
Editor: Zainuddin
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved