Kabar Blitar

Kapokmu Kapan Lur, Keluar Penjara Eh Jualan Lagi, Pengecer Pil Koplo Tulungagung Diciduk di Blitar

Kapokmu Kapan Lur? Keluar Penjara Malah Jualan Lagi, Bandar Pil Koplo Tulungagung Diciduk di Blitar

Kapokmu Kapan Lur, Keluar Penjara Eh Jualan Lagi, Pengecer Pil Koplo Tulungagung Diciduk di Blitar
IST
Ilustrasi pil dobel L alias pil koplo 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Mengaku sudah tak leluasa bergerak di tempatnya, Hendrik (36), pengecer pil dobel L alias pil koplo asal Kelurahan Jepun, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung, berniat mengembangkan jaringan ke luar kota.

Namun, baru dua kali berjualan di Kabupaten Blitar, dia yang pernah ditahan dengan kasus serupa dan bebas dari LP Tulungagung tahun 2018 itu, tertangkap kembali.

Ia ditangkap di Jalan Raya Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat, Sabtu (25/1/2020) malam, saat perjalanan menuju ke Kota Blitar.

Darinya diamankan pil dobel L sebanyak 30 butir. Katanya, yang 20 butir sudah terjual beberapa menit sebelum tertangkap.

Yakni, dijual pada seseorang yang transaksinya di dekat TKP tersebut. Atau tepanya, sebelah barat SPBU Karanggayam. Itu laku Rp 50.000 atau per biji seharga Rp 2.500.

AKP Didik Suhardi, Kasat Narkoba Polres Blitar, mengatakan, penangkapan Hendrik terjadi pukul 21.00 WIB. Itu setelah petugas mendapatkan informasi kalau baru saja berlangsung transaksi pil dobel L.

Akhirnya, petugas mencarinya, dengan ciri-ciri yang ada pada Hendrik. Di antaranya, mengenakan jaket warna merah, dan mengendarai sepeda motor bebek (matic) sendiri.

Saat itu, dia lagi melaju ke arah Kota Blitar, dengan akan janjian sama seseorang.

"Petugas sempat membuntuti sebentar, lalu menghentikannya di timur SPBU atau di barat tikungan jalan Desa Karanggayam," ujarnya.

Begitu dihentikan, ia langsung menepikan laju sepeda motornya dan terlihat gugup. Sepertinya, ia akan membuang sesuatu yang diambil dari saku celananya.

Namun, karena sudah dikepung petugas, sehingga tak ada kesempatan untuk melakukannya.

"Ia mengaku akan menemui seseorang, yang akan membeli pil itu. Katanya, ia baru dua kali masuk ke kota (Kota Blitar). Alasannya, di Tulungagung, ia sudah ytak bisa bergerak bebas karena dikenal petugas," paparnya.

Ia mengaku mendapatkan barang dari temannya, yang dikenalnya saat sama-sama di LP dulu. Harganya Rp 1.500 per biji dan dijual kembali Rp 2.500 per butir.

Menurut Didik, dalam seminggu, ia mampu menjual 1.000 butir atau senilai Rp 2,5 juta.

Penulis: Imam Taufiq
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved