Breaking News:

Ayah Tiri Renggut Mahkota Anak Gadisnya saat Istri ke Rumah Tetangga, Ngaku Ketagihan Hingga Hamil

Ayah Tiri renggut mahkota anak gadisnya saat istri ke rumah tetangga, ngaku ketagihan hingga hamil.

Penulis: Sarah Elnyora | Editor: Adrianus Adhi
Suryamalang.com/kolase mStar
Ilustrasi rumah dan wanita 

Ketua P2TP2A Kabupaten Cianjur Lidya Indayani Umar, mengatakan, pelaku pencabulan terhadap anak mayoritas dikakukan oleh orang-orang terdekat.

"Sejak tahun 2019 - 2020 ini, saya sudah menangani puluhan kasus, di antaranya yang dilakukan oleh bapak kandung sebanyak 8 perkara, bapak tiri 12 perkara, dan pelaku - pelaku lainnya juga tidak jauh seperti tetangga, bahkan saudaranya," kata Lidya, Kamis (30/1/2020).

Korban pencabulan ayah kandung yang merekam perbuatan bejat ayahnya di India.
Korban pencabulan ayah kandung yang merekam perbuatan bejat ayahnya di India. (Batam.tribunnews.com)

Lidya mengatakan, banyak faktor yang memicu terjadinya kasus pencabulan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat korban.

Di antaranya, punya istri tapi istrinya bekerja di luar menjadi TKW, nonton film porno, dan masih banyak faktor lainnya yang menyebabkan terjadinya kekerasan seksual.

"Keseringan nonton film porno, itu yang paling utama membahayakan akan terjadinya kekerasan seksual, dan bagi yang punya istri tapi ditinggal kerja ke luar juga bisa menjadi pemicu," katanya.

Ia mengatakan, tak hanya pada kekerasan pencabulan saja.

Tapi kasus - kasus lain, seperti sodomi, untuk tahun 2019 saja menurutnya sudah menangani 3 kasus korban sodomi yang dilakukan anak dibawah umur juga.

"Kalau saya tanya ke pelaku, kenapa berbuat seperti itu, ternyata ada sesuatu yang memang harus ia lakukan," ujarnya.

Ilustrasi
Ilustrasi (kriminologi.id)

Adapun untuk kasus yang menimpa SA, pihaknya saat ini akan berupaya membantu proses persalinan SA apakah nantinya akan di sesar atau lahirannya secara normal.

Komisioner KPAI, Ai Maryati, mengatakan, pemerintah sudah seharusnya hadir dan memberikan jaminan kesejahteraan sosial, pendidikan, dan pendampingan khusus pada anak yang menjadi korban.

"Itu sudah jadi hak dasar, supaya masa depan anak yang menjadi korban itu terjamin. Tapi yang urgent saat ini ialah pendampingan secara mental dan psikologis korban. Kami juga akan turun tangan, termasuk berkoordinasi dengan P2TP2A di Cianjur untuk pendampingan tersebut," katanya.

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved