Perbanyak Ruang Publik di Sekolah Agar Emosi Sosial Siswa Tersalurkan

Kasus dugaan kekerasan pada MS, siswa kelas 7 di SMPN 16 Kota Malang menjadikan tanda tanya tentang sekolah ramah anak.

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Dr M Mahpur MSi, Dosen Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Minggu (2/2/2020). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Kasus dugaan kekerasan pada MS, siswa kelas 7 di SMPN 16 Kota Malang menjadikan tanda tanya tentang sekolah ramah anak.

Dosen Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Dr M Mahpur MSi berharap sekolah ramah anak tak hanya jadi jargon saja.

Tapi harus dibarengi dengan memperbanyak ruang publik di sekolah. Sehingga emosi sosial siswa bisa disalurkan.

“Memperbanyak ruang publik di sekolah itu tahap setelah menjadi sekolah ramah anak.”

“Misalkan dengan menambah tempat permainan seperti lapangan bola atau futsal untuk olahraga atau permainan tradisional. Sehingga tidak terjadi bullying pada siswa,” kata Mahpur pada SURYAMALANG.COM, Minggu (2/2/2020).

Namun sekarang sekolah lebih pada pembangunan gedung-gedung.

Maka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang harus melihat kembali sekolah-sekolah yang tak punya ruang publik.

Jika tidak bisa, maka disarankan bekerja sama dengan RT atau RW di lingkungannya sehingga penyaluran emosi sosial siswa bisa dilakukan.

“Saat ini siswa itu sudah penat karena target-target akademik sehingga emosi sosialnya tidak tersalurkan,” kata dia.

Sebab siswa hanya berada di ruang kelas saja juga membuat penat. Mahpur melihat sekolah saat ini memang fokus pada akademik.

Halaman
123
Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: Zainuddin
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved