Perlu Regulasi untuk Batasi Barang Impor Masuk Kota Batu, Penting Untuk Lindungi Petani

Dewan juga mendesak agar Dinas Pertanian bisa membantu petani meningkatkan kualitas pertanian sehingga produknya tidak kalah dengan barang impor.

Perlu Regulasi untuk Batasi Barang Impor Masuk Kota Batu, Penting Untuk Lindungi Petani
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
Pemandangan lahan tanaman bawang merah di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. 

SURYAMALANG.COM, BATU – DPRD Batu mendorong adanya regulasi yang membatasi impor hortikultura untuk melindungi kualitas dan produktivitas hasil pertanian Kota Batu.

Anggota Komisi B dari Fraksi Gabungan Amanat Demokrat, Deddy Irfan Alwani mengatakan, perlindungan terhadap petani sangat penting karena bagaimanapun juga, Kota Batu juga dikenal sebagai kota pertanian. Bukan hanya kota wisata.

Dikatakan Deddy, dalam waktu dekat ini Komisi B DPRD Kota Batu akan dengar pendapat dengan Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Batu membahas formula yang pas.

Lapas Lowokwaru, Kota Malang Lakukan Pendekatan Persuasif kepada WBP untuk Cegah Kerusuhan

Biodata Pemain Kushedya Yudo Pencetak Gol Arema saat Melawan Persela di Piala Gubernur Jatim 2020

Aurel Hermansyah Bela Lucinta Luna, Setelah Narkoba dan Identitas Terbongkar, Bahas Soal Aib

Hal itu juga menjadi program prioritas Komisi B demi perlindungan terhadap petani.

“Jangan sampai hasil panen petani di Batu harganya anjlok dan mengakibatkan mereka merugi," kata Deddy, Kamis (13/2/2020).

Katanya, pemerintah harus bisa memberikan jaminan kepada petani melalui regulasi. Baikd alam bentuk Perda maupun Perwali.

"Aturan pembatasan impor hortikultura ini masih kami cari tahu. Tujuannya, untuk membatasi sayuran dan buah impor,” ujarnya.

Dewan juga mendesak agar Dinas Pertanian bisa membantu petani meningkatkan kualitas pertanian sehingga produknya tidak kalah dengan barang impor.

Lalu, mewajibkan restoran, rumah singgah atau homestay, vila dan hotel memanfaatkan hasil pertanian untuk pengunjung.

“Maka harus bisa mendorong pengusaha wisata menyerap buah dan sayur yang disuguhkan kepada wisatawan. Sekarang kita upayakan dan terus mendorongnya agar bisa terealisasi," tandasnya.

Deddy menambahkan beberapa komoditi yang bakal diutamakan yaitu apel dan bawang putih.

Apel merupakan simbol Kota Batu yang menurutnya mulai tergerus sekarang.

Pasalnya, ketika panen pun petani apel sering merugi. Selanjutnya produk bawang putih yang sudah tidak banyak ditemukan di Kota Batu.

"Padahal Batu dahulu terkenal dengan apel dan bawang putih. Itu yang harus kita angkat kembali," tutupnya. 


Penulis: Benni Indo
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved