Breaking News:

Mengenal Kekuatan Petir di Indonesia, Tewaskan Pemain Sepakbola di Sulawesi, Pernah Pecahkan Rekor

Mengenal kekuatan Petir di Indonesia, tewaskan pemain sepakbola di Sulawesi, pernah pecahkan rekor.

Penulis: Sarah Elnyora | Editor: Adrianus Adhi
SURYAMALANG.COM/kolase ilustrasi Kompas.com/Pixabay
Petir dan ilustrasi pemain sepakbola 

SURYAMALANG.COM - Mengenal kekuatan petir di Indonesia hingga seorang pemain Sepakbola di Sulawesi Selatan tewas tersambar. 

Fakta ini sejalan dengan penelitian yang menyebut Indonesia masuk dalam daftar negara dengan sambaran petir paling ganas. 

Bahkan kekuatan sambaran petir di Indonesia tercatat masuk di Guinness Book of World Record.

Sebelumnya, seorang pemain sepakbola Muhammad Fery (16) asal Konawe Selatan, Sulawesi Selatan tewas tersambar petir.

(Ilustrasi) Petir terganas di dunia ternyata ada di Indonesia.
(Ilustrasi) Petir terganas di dunia ternyata ada di Indonesia. (Pixabay)

Peristiwa tersebut terjadi di pertandingan Bupati Cup U16, Kamis (20/2/2020).

Pelatih Tim Persatuan Sepak Bola Tinanggea, yakni Sahrum mengungkapkan Ferry nampak terjatuh setelah tersambar petir.

Pelatih juga mengungkap, pemainnya saat tiu berusaha untuk berdiri namun tidak bisa akibat kesakitan.

"Teman di dekatnya yang lihat tadi ngaku memang (tubuh) almarhum mengeluarkan asap," kata Sahrum, Jumat (21/2/2020) seperti yang dilansir dari Tribun Kaltim. 

Ferry semopat dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Ilustrasi
Ilustrasi (THINKSTOCK )

Namun nahas, akibat luka bakar yang berada di tubuhnya, pemain itu akhirnya tak tertolong.

Selain Ferry, petir juga menyambar rekan pemain lainnya, yakni Musta (16).

Meskipun demikian, kondisi Musta tak separah yang dialami oleh Ferry.

Saat ini, pemain yang berusia 16 tahun itu menerima perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Konawe Selatan.

Menurut keterangan pihak rumah sakit, kondisi Musta hingga saat ini telah berangsur membaik.

Ilustrasi sepak bola
Ilustrasi sepak bola (shutterstock)

Persitiwa kabar duka bagi dunia sepak bola Indonesia terjadi saat hari ke-4 pelaksanaan turnamen sepak bola memperebutkan Bupati Cup I Usia 16 tahun.

Turnamen yang diikuti 25 tim dari 25 kecamatan di Kabupaten Konawe Selatan itu berlangsung di Stadion Lababa Silondae, Konsel.

Sedangkan dua remaja yang tersambar petir merupakan pemain tengah yang memperkuat tim sepak bola Kecamatan Tinanggea ketika melawan Kecamatan Buke.

Akibat peristiwa ini, pertandingan terpaksa ditunda.

Kekuatan Petir di Indonesia 

Insiden yang menimpa Muhammad Fery bukan sebuah kebetulan, dari hasil penelitian medio 2002 oleh Prof. Dr. Ir. Dipl. Ing. Reynaldo Zoro dari Institut Teknologi Bandung, Indonesia memiliki petir paling ganas di dunia. 

Daerah yang menjadi titik terganas itu disebutkan berada di wilayah Depok, Jawa Barat. 

Bahkan rekor itu tercatat di Guinness Book of World Record.

Penelitian yang disponsori PLN Cabang Depok, pada bulan April, Mei, dan Juni 2002, dengan menggunakan teknologi lighting position and tracking system (LPATS), itu mendapati arus petir negatif berkekuatan 379,2 kA (kilo Ampere) dan petir positif mencapai 441,1 kA.

“Dengan kekuatan arus sebesar itu, petir mampu meratakan bangunan gedung yang terbuat dari beton sekalipun," kata Zoro kepada Warta Kota (grup SURYAMALANG.COM).

Selama ini, Indonesia memang dikenal sebagai negara dengan sambaran petir cukup tinggi.

Zoro menjelaskan, kondisi meteorologis Indonesia memang sangat ideal bagi terciptanya petir.

Tiga syarat pembentukan petir - udara naik, kelembapan, dan partikel bebas atau aerosol - terpenuhi dengan baik di Indonesia sebagai negara maritim.

Sebelumnya, penelitian Zoro dipusatkan di kawasan Tangkuban Perahu, Jawa Barat, dengan anggapan di daerah itu sambaran petir cukup besar.

Tak dinyana, penelitian mutakhir justru menemukan daerah Depok, khususnya wilayah selatan seperti Sawangan dan Cinere.

Petir Menyambar Pria & Wanita Larantuka, Pingsan Seketika, Main HP saat Berteduh di Tempat Terbuka
Petir Menyambar Pria & Wanita Larantuka, Pingsan Seketika, Main HP saat Berteduh di Tempat Terbuka (SURYAMALANG.COM/kolase TribunJabar.id/Intisarionline)

Menurut Zoro, Depok merupakan daerah yang dipengaruhi angin regional dan angin lokal.

Yakni angin dari lembah dan angin gunung dari Bukit Barisan, serta angin lokal dari angin darat dan angin laut Kepulauan Riau dan Selat Malaka.

Gerakan angin itulah yang menyebabkan pembentukan awan petir dengan kerapatan dan sambaran petir sangat tinggi.

Zoro mengibaratkan Bumi sebagai kapasitor.

Antara ionosfer dan Bumi, jika langit cerah, ada arus listrik yang mengalir terus-menerus, dari ionosfer yang bermuatan positif ke Bumi yang bermuatan negatif.

Tapi Bumi tidak terbakar, karena ada awan petir yang bermuatan listrik positif maupun negatif sebagai penyeimbang. "Yang positif turun ke Bumi, dan yang negatif naik ke ionosfer," kata Zoro.

Ketika langit berawan, tidak semua awan adalah awan petir. Hanya awan cumulonimbus yang menghasilkan petir.

Petir terjadi karena pelepasan muatan listrik dari satu awan cumulonimbus ke awan lainnya, atau dari awan langsung ke Bumi.

Dalam terminologi Perusahaan Listrik Negara (PLN), instansi yang paling sering menanggung kerugian karena petir, sambaran dibedakan menjadi tiga jenis yang semuanya didata. Selain sambaran positif dan sambaran antarawan, ada juga sambaran negatif, yakni lompatan listrik dari Bumi ke ionosfer.

Dalam catatan PLN Depok, sepanjang tahun 2001 terjadi 340 kali sambaran positif, 8.520 kali sambaran negatif, dan 1.151 sambaran antarawan. Kekuatan maksimum yang tercatat 290,2 kA.

Sambaran negatif yang jumlahnya jauh lebih tinggi daripada sambaran positif atau antarawan, diduga karena kandungan besi tanah di Depok terbilang tinggi. Penelitian ahli geologi UI mendapati tingginya kandungan besi di sekitar Depok, khususnya di danau buatan di Kampus UI.

Menurut Zoro, sambaran petir di Depok terjadi hampir sepanjang tahun.

Yang tertinggi pada bulan Maret, April, dan Mei, atau pada musim hujan. Sambaran agak mereda di bulan Februari.

Mengutip data yang didapat pada laboratorium yang dipimpin Zoro di ITB, Jaringan Deteksi Petir Nasional, Indonesia memiliki hari guruh (hari terjadinya petir dalam setahun) 200 hari.

Sementara Brasil 140 hari, Amerika Serikat 100 hari, dan Afrika Selatan 60 hari.

Kasus Sambaran Petir di Tuban

Sebelumnya, kasus pemain sepakbola tersambar petir pernah terjadi awal tahun 2019 silam. 

Seorang pemain bola di Tuban, Saiful Bakhtiar tewas saat bertanding setelah tersambat petir bahkan tubuhnya sempat mengeluarkan asap.

Saiful Bakhtia tewas tersambar petir ketika ia sedang bermain dalam laga persahabatan di lapangan Desa Bangilan, Tuban, Sabtu (12/1/2019), pukul 17.15 WIB.

Saiful tewas tersambar petir disambar petir saat bertanding dalam laga persahabatan antara Kecamatan Singgahan melawan Kecamatan Bangilan.

Menurut penjelasan Kapolsek Bangilan, AKP Budi Handoyo, Saiful disambar hingga tewas saat bertanding sepakbola dalam cuaca hujan.

Seorang pemain bola di Tuban, Saiful Bakhtiar tewas dalam saat bertanding setelah tersambat petir bahkan tubuhnya sempat mengeluarkan asap.
Seorang pemain bola di Tuban, Saiful Bakhtiar tewas dalam saat bertanding setelah tersambat petir bahkan tubuhnya sempat mengeluarkan asap. (SURABAYA.TRIBUNNEWS.CO.ID)

Sebelum pertandingan dimulai, sudah terdengar suara gemuruh di langit disertai petir.

Ketika pertandingan berlangsung saat hujan, tiba-tiba petir menyambar seorang pemain yang diketahui bernama Saiful.

Budi Handoyo mengatakan, petir tiba-tiba menyambar Saiful hingga menyebabkan ia tergeletak dan tubuhnya sempat mengeluarkan asap.

"Petir langsung menyambar begitu saja, saat pertandingan sepakbola berlangsung, korbannya Saiful Bakhtiar," ujar Kapolsek Budi Handoyo dikutip dari Surya.co.id.

Sebenarnya, teman-teman Saiful yang mengetahui hal itu langsung membawanya ke Puskesmas Bangilan.

Namun, nyawa Saiful saat itu tidak tertolong dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Budi Handoyo menjelaskan, hasil pemeriksaan medis juga tidak menunjukkan tanda-tanda kekerasan.

Kematian Saiful murni karena tersambar petir saat bertanding sepak bola dalam keadaan hujan.

"Korban tidak selamat, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, pihak keluarga juga sudah menerima kejadian itu," pungkas Kapolsek Budi Handoyo.

Sementara itu, pihak keluarga korban juga telah mengikhlaskan kepergian Saiful.

Mereka juga meminta agar jasad Saiful tidak diotopsi.

Sumber: Suar.id
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved