Breaking News:

Gubernur Khofifah Kirim Guru Tari dan Karawitan ke Riau untuk Lestarikan Seni Budaya Jatim

Khofifah mencoba menampung apa yang dibutuhkan warga asal Jawa Timur untuk bisa terus menjaga dan melestarikan budaya Jawa Timur.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Fatimatuz Zahro
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bertemu dengan ratusan warga Provinsi Riau asal Jawa Timur di Hotel Grand Central Pekanbaru, Jumat (6/3/2020). 

SURYAMALANG.COM, PEKANBARU - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ingin agar pelestarian budaya Jawa Timur bisa terus dilestarikan oleh para warga Jawa Timur meski sudah berada di luar tanah kelahiran.

Oleh sebab itu saat bertemu dengan ratusan warga Provinsi Riau asal Jawa Timur di Hotel Grand Central Pekanbaru, Jumat (6/3/2020), Khofifah mencoba menampung apa yang dibutuhkan warga asal Jawa Timur untuk bisa terus menjaga dan melestarikan budaya Jawa Timur.

Di antaranya warga Riau asal Jatim meminta agar da guru les kesenian tari dan karawitan yang bisa melatih komunitas tari remo dan karawitan. Sebab tak kurang sudah ada sekitar 90 orang warga Riau asal Jatim yang mimiliki minat di kesenian karawitan namun belum ada tenaga ahli yang bisa mengajar.

“Ini tadi terkonfirmasi ada sebanyak 90 orang yang berminat untuk ikut dalam komunitas karawitan. Ya kita akan fasilitasi untuk mengirimkan tenaga yang mengajar. Sebab ini adalah salah satu pelestarian budaya dan bagaimana supaya budaya kita terus terdesiminasikan ya,” kata Khofifah.

Tidak hanya karawitan yang juga akan difasilitasi Pemprov Jatim untuk warga Riau yang asli Jatim juga adalah kesenian reog. Agar budaya reog yang bahkan sudah mendunia ini bisa terus diviralkan, maka rencananya Pemprov Jatim juga akan mengirimkan tenaga pelatih dan perangkat yang dibutuhkan. Tinggal menunggu berapa orang yang mungkin berminat untuk melestarikan budaya Jatim ini.

“Ini adalah bentuk syiar budaya Jatim bagi kita di daerah lain,” kata Khofifah.

Mantan Menteri Sosial ini menjelaskan bahwa di Provinsi Riau cukup banyak warga asal Jatim yang merantau dan menetap untuk tinggal di sini. Yang kemudian mereka mendirikan paguyuban paguyuban yang menjadi pengikat mereka sebagai warga dari asal daerah yang sama yaitu dari Jawa Timur.

Di Pekanbaru saja misalnya,  juah warga asal Jatim mencapai 10 ribu orang. Yang beberapa diantaranya juga sudah berganti kartu identitas sebagai warga Riau, namun ikatan persaudaraan mereka sebagai warga asal Jatim hingga kini masih terjalin. Sebab di seluruh penduduk Provinsi Riau sekitar 20 persen dari total penduduknya berasal dari Jawa Timur.

“Maka pertemuan kita malam ini dengan warga asal Jatim ini adalah bagian dari upaya membangun silaturahmi harokiyah. Agar mereka suatu saat ingin pulang ke Jatim bisa jadi tahu jalannya rusak lalu dibangun, lalu tahu musolah kampungnya butuh perbaikan lalu diperbaiki,” kata Khofifah. Menurutnya hal itu sesuai teori demografi adalah teori push and pull. 

Begitu juga dari segi manfaat ekonomi, dalam pertemuan dengan warga Riau asal Jatim ini, turut diperkenalkan potensi potensi bagi mereka untuk bisa turut tumbuh dan berkembang di daerah yang mereka tinggali. Misalnya di Riau sering terjadi inflasi akibat harga cabai yang fluktuatif.

Warga Jatim yang mahir bercocok tanam bisa dihubungkan dengan Dinas Pertanian setempat untuk bagaimana bisa membantu mengembangkan penanaman cabai yang lebih masif dengan memanfaatkan lahan yang ada. Maka dengan begitu masalah sektoral juga akan bisa diatasi dan akan memberikan manfaat ekonomi bagi warga asal Jatim yang ada di Riau.

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved