Kabar Surabaya

Pendeta Menodai Cewek Surabaya di Gereja Diduga Korbannya Lebih dari Satu, Ogah Ditahan Alasan Sakit

Pendeta Menodai Cewek Surabaya di Gereja Diduga Korbannya Lebih dari Satu, Ogah Ditahan Alasan Sakit

SURYAMALANG.COM/Luhur Pambudi
Pemuka agama di Surabaya berinisial HL (50) diduga memperdayai cewek berinisial IW (26) selama enam tahun. 

HL dilaporkan atas dugaan merudapaksa seorang wanita berinisial IW (26) hingga menimbulkan trauma dan luka psikologis.

Pasalnya, perbuatan terlapor dilakukan terhadap korban saat, berusia di bawah umur, kisaran 12 tahun.

Belakangan diketahui perbuatan terlapor tak cuma sekali.

HL telah merudapaksa IW selama tujuh tahun, sejak 2005 hingga 2011.

Kronologi terbongkarnya perbuatan pendeta HL merudapaksa wanita berinisal IW (26) selama 7 tahun, terjadi saat korban bersama pasangannya hendak melangsungkan pernikahan.

Lazimnya sebuah proses sakral dalam tradisi agama yang dianut mereka, bahwa pelaksanaan prosesi sakral pernikahan sepasang mempelai harus melibatkan seorang pendeta.

Saat kedua orangtua korban menyarankan IW dan calon suaminya dinikahkan oleh pendeta HL, ternyata korban menolak keras.

"Orangtuanya ini meminta dinikahkan di gereja pendeta ini, lah pada saat itu anak itu memberontak, baru terungkap," ungkap Perwakilan Keluarga Korban, Jeannie Latumahina saat ditemui awak media di Mapolda Jatim, Senin (2/3/2020) kemarin.

Dari penolakan itulah, terbongkarlah semua perbuatan HL selama ini.

Pihak orangtua korban yang shock karena tidak mengetahui sama sekali perbuatan bejat itu telah dilakukan selama tujuh tahun, lantas melaporkan pendeta HL ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Mapolda Jatim, Kamis (20/3/2020).

Jefri Simatupang mengatakan akan mematuhi proses hukum yang sedang dijalani kliennya.

Selain menghormati proses hukum yang bergulir, lanjut Jefri, pihaknya juga akan menghargai hak-hak korban.

Kendati begitu, pihaknya ingin mengklarifikasi sejumlah dugaan yang tak mendasar diarahkan pada kliennya.

Di antaranya, perihal lama waktu dugaan kekerasan seksual yang disangkakan kepada kliennya.

Kemudian, dugaan adanya pemerkosaan yang sejatinya tidak benar.

"Kalau kami melihat dari kasus, tentu kami bantah, terjadi pencabulan selama 17 tahun. Yang kedua, ada pemberitaan bahwa ada pemerkosaan itu tidak ada," ujarnya.

Jefri berharap kepolisian tetap objektif dalam memproses kasus tersebut.

"Lalu pertanyaannya apakah ada pencabulan? Itu yang sedang kami cari. Ada atau tidak ada pencabulan, pembuktiannya di pengadilan," tuturnya.

Bilamana proses hukum nantinya membuktikan bahwa kliennya tidak melakukan hal yang dituduhkan, Jefri berharap, kliennya bisa dibebaskan.

Namun bila memang terbukti sebaliknya, kliennya siap diproses hukum sesuai perundang-undangan yang berlaku.

"Kami siap untuk membuka kebenaran. Kebenaran itu seperti apa, ya nanti akan kita buka, biarkan juga polisi yang diwakili jaksa untuk membuka bukti-buktinya apa."

"Dan kami siap untuk membela hak-hak hukum, kalau memang klien kami bisa dibuktikan bersalah dan melakukan secara hukum silahkan dihukum. Tapi kalau tidak terbukti, maka kami minta klien kami dibebaskan," pungkasnya.

Sebelumnya, pengusutan kasus tersebut berawal dari sebuah laporan yang dibuat pihak keluarga korban, Kamis (20/2/2020) silam.

Dengan nomor laporan polisi: LPB/155/II/2020/UM/SPKT. Hari Kamis tanggal 20 Februari 2020 Jam 14.00 WIB.

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan
Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan (SURYAMALANG.COM/Luhur Pambudi)

Perihal Surat Penangguhan Penahanan

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan menegaskan, belum ada surat penangguhan penahanan dari pihak kuasa hukum pemuka agama HL (50) yang diduga merudapaksa cewek di bawah umur IW (26) di sebuah tempat ibadah di Kota Surabaya.

"Semua itu hak daripada tersangka. Boleh boleh aja. Tapi sampai sekarang belum ada," katanya di depan Lobby Gedung Tri Brata Mapolda Jatim, Senin (9/3/2020).

Bilamana disebut-sebut bahwa surat penangguhan penahanan itu didasarkan oleh kondisi kesehatan HL yang tak memungkinkan; karena mengalami sakit jantung hingga kesulitan bernafas.

Luki membantahnya. Pasalnya, kondisi terkini HL sudah mendekam di gedung tahanan Mapolda Jatim dalam keadaan sehat.

"HL ditahan. Sehat (kondisi kesehatan). Kami nanti ada dokter (sakit jantung kambuh)," jelas Luki.

Sementara itu, Kuasa Hukum HL, Jefri Simatupang membantah bilamana pihaknya belum memberikan surat penangguhan penahanan tersebut.

Jefri mengungkapkan, surat tersebut diserahkannya kepada pihak penyidik bersamaan dengan pemindahan tersangka pada Sabtu (7/3/2020) kemarin.

Bahkan pihaknya mengklaim sudah mendapat tanda bukti bahwa suratnya telah diterima pihak penyidik.

"Sabtu kami layangkan. Ada kami sudah ajukan penangguhan penahanan. Kalau polisi bilang belum, kami sudah ada tanda terimanya kok," ungkapnya. (Luhur Pambudi)

Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved