Berita Madiun Hari Ini

Dugaan Penimbunan Gula Pasir Diungkap Polres Madiun, Ada 4,3 ton Gula di Toko Pakan Burung

Pantauan di lokasi tampak 87 karung gula, masing-masing berisi 50 kg gula, dipasangi police line, untuk kepentingan penyelidikan.

SURYAMALANG.COM/Rahardian Bagus Priambodo
Polres Madiun ungkap dugaan penimbunan gula pasir 

SURYAMALANG.COM, MADIUN - Tim Satreskrim Polres Madiun menyita sebanyak 4,3 ton gula yang diduga ditimbun seorang pemilik toko pakan burung di Desa Slambur, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Kamis (19/3/2020) siang.

Pantauan di lokasi tampak 87 karung gula, masing-masing berisi 50 kg gula, dipasangi police line, untuk kepentingan penyelidikan.

Kapolres Madiun, AKBP Eddwi Kurniyanto, mengatakan penggerebekan toko pakan burung milik Mat Rochani (60) ini berawal dari kecurigaan polisi adanya penimbunan gula pasir.

Stok Gula Pasir dan Beras di Kota Batu Aman, Dinas Ketahanan Pangan : Stok Cukup Hingga 2 Bulan

Diskoperindag Sebut Tidak Ada Kelangkaan Gula Pasir di Kota Malang, Pabrik Gula Gelar Operasi Pasar

Pemkot Batu Siapkan Anggaran Rp 7 Miliar Hadapi Virus Corona, Rp 2,5 Miliar untuk Pasien Covid-19

Setelah dilakukan penyelidikan, polisi menemukan 4,3 ton gula di toko tersebut.

Saat dimintai keterangan, ternyata Mat Rochani tak memiliki izin perdagangan gula pasir.

Selain itu, diduga Mat Rochani sengaja menimbun gula pasir dan akan menjualnya saat harga gula naik seperti saat ini.

“Dari hasil penyelidikan, pemilik toko ini mendapatkan gula pasir dari salah satu pabrik gula, pada Juni 2019 sebesar 19 ton. Sejak Juni hingga September 2019 sudah terjual 10 ton,” kata

Kemudian, Mat Rochani mengambil sisanya sekitar sembilan ton pada 14 Maret 2020, dan kini masih ada sisa sekitar 4,3 ton yang belum terjual.

Gula tersebut merupakan jatah PG Pagotan kepada Mat Rochani selaku petani tebu yang menjual hasil tebunya ke PG Pagotan

Eddwi mengatakan, Mat Rochani melanggar aturan karena menjual gula pasir tanpa izin.

Selain itu, Mat Rochani juga menjual gula pasir dengan harga lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET).

“Pada Juni 2019, dia menjual dengan harga Rp 15.200, padahal seharusnya dijual Rp12.500/kg. Sekarang memang sudah naik antara Rp16.000/kg hingga Rp17.000/kg. Mungkin nanti bisa saja dia jual denga harga Rp16.000/kg sampai Rp17.000/kg, kalau belum kami amankan," jelas Eddwi.

Akibat perbuatannya, Mat yang masih berstatus terperiksa akan dijerat Pasal 106 atau 107 UU No. 7 Tahun 2004 tentang Perdagangan, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved