Penanganan Virus Corona di Malang

Japelidi Kampanye Edukatif Covid-19 Dalam 42 Bahasa Daerah, Ada Poster Bahasa Malangan

Diyakini bahwa poster dalam 42 bahasa daerah akan lebih dipahami oleh semua kalangan di seluruh daerah di Indonesia.

Japelidi Kampanye Edukatif Covid-19 Dalam 42 Bahasa Daerah, Ada Poster Bahasa Malangan
SURYAMALANG.COM/Japelidi
Contoh kampaye poster edukasi dalam bahasa Jawa ngoko yang dibuat oleh Japelidi. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Japelidi (Jaringan Pegiat Literasi Digital) menyarikan dan memproduksi beragam informasi terkait Covid-19 lewat video dan poster edukatif pada masyarakat dalam 42 bahasa daerah.

Japelidi sebagian besar anggotanya adalah dosen dari 78 perguruan tinggi di 30 kota di Indonesia.

“Tujuannya untuk mengimbangi banjir hoaks yang menyesatkan warga di saat pandemi ini. Maka kami membuat beragam konten digital ‘Jaga diri dan Jaga Keluarga’ di dalam 42 bahasa daerah, selain bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin. Sebab masyarakat Indonesia majemuk,” terang Novi Kurnia, Koordinator Japelidi dalam rilis yang diterima suryamalang.com, Rabu (25/3/2020).

Pelatih Arema FC Tindak Tegas Pemain yang Tidak Kirim Video Latihan Di Rumah Selama Libur Corona

DICARI Relawan Penjahit Untuk Buat 500 APD Untuk Tenaga Medis Hadapi Covid-19 di Malang dan Blitar

DPRD Kabupaten Malang Minta Pemkab Malang Beri Bantuan Sembako Kepada Warga Miskin Terdampak

Ketua Program Magister Ilmu Komunikasi Fisipol UGM menyatakan produksi konten berbahasa daerah akan bertambah sesuai kebutuhan masyarakat.

Untuk penyebarannya menggandeng Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) dan Komunitas “Berbeda Itu Biasa”. Juga lewat media sosial.

Bahasa daerah yang dipakai antara lain bahasa Jawa Tengah ngoko dan kromo, Betawi, Malangan, Bali, Papua Barat, Sunda dll.

Dikatakan, sejauh ini tanggapan warganet positif. Bahkan ada yang minta dikirimi file untuk dicetak dan diberikan pada warga lanjut usia di sekitar mereka.

Hal ini karena tidak semua orang memiliki akses ke media sosial.

Kampanye luring (di luar jaringan) juga dilakukan seperti membagikan sabun dan hand sanitizer pada warga yang masih harus bekerja di luar rumah dalam kondisi saat ini.

Sedang anggota Japelidi, Frida K Poerbantoro, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memandang perlunya bahasa daerah dalam poster tersebut karena melihat fakta bahasa daerah menggambarkan kultur masyarakat.

Halaman
12
Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved