Jendela Dunia

Kisah Wanita Asal Solo saat Menjalani Lockdown di Perancis, Kontrol Kehamilan Tanpa Dampingan Suami

Kisah Wanita Solo Jateng saat Menjalani Lockdown di Perancis, Kontrol Hamil Tanpa Dampingan Suami

dokumen pribadi via kompas.com
Annisa Dewi Febryandini (27) salah satu WNI di Perancis yang mengalami secara langsung dampak lockdown akibat virus corona di negara itu. Foto ini diambil di Gunung Semnoz di kawasan Haute-Savoie, Perancis. 

SURYAMALANG.COM - Wabah virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19 menyebar hampir di seluruh bumi, tak terkecuali negeri Perancis.

Di Perancis, pemerintah setempat melakukan prosedur ketat dalam menjalankan lockdown atau karantina demi memutus rantai penularan virus corona.

Pengalaman inilah yang dialami oleh orang Indonesia yang kebetulan menetap di Perancis.

Sekadar diketahui, peraturan pemerintah setempat dilakukan demi kebaikan warganya, entah itu orang Perancis asli atau warga negara asing.

Nah, berikut ini adalah kisah orang Indonesia yang tinggal di Perancis selama wabah virus corona.

Bakso Arema Jadi Primadona Selama Bulan Ramadan di Islandia, Puasa Hingga 22 Jam di Suhu Dingin

Selamat kepada Selandia Baru yang Menang Melawan Virus Corona, Simak Pernyataan PM Jacinda Ardern

Ilustrasi virus corona atau Covid-19 dalam bentuk 3D
Ilustrasi virus corona atau Covid-19 dalam bentuk 3D (SHUTTERSTOCK/ANDREAS PROTT)

Tinggal di Kota Toulouse, barat daya Perancis membuat Annisa Dewi Febryandini (27), salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) yang tengah hamil anak pertamanya berjuang sendiri mencapai klinik pemeriksaan.

Pasalnya, aturan lockdown akibat wabah virus corona atau Covid-19 di negeri itu memaksa siapa saja yang hendak memeriksakan kehamilan untuk pergi sendiri tanpa ditemani pendamping. Siapa pun orangnya.

Padahal, jarak antara tempat tinggal Annisa yaitu di distrik Les Chalets dan klinik dokter kandungan yang ditujunya, Clinique Ambroise Paré cukup jauh, sekitar 8 kilometer dalam satu kali perjalanan.

Kondisi hamil trimester awal yang membuatnya pusing, mual dan muntah juga menjadi salah satu faktor yang dianggap cukup berat untuk bisa melakukan kontrol ke dokter.

"Saya rasa hal paling berat saat ini adalah harus periksa (kehamilan) sendiri, tidak boleh ditemani siapa pun. Jadi, setiap ke klinik, ke lab (untuk) tes darah, saya harus pergi sendiri. Itu aturan dari dinas kesehatan setempat," ungkap Annisa kepada Kompas.com melalui WhatsApp pada Minggu (3/5/2020).

Halaman
1234
Editor: eko darmoko
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved