Breaking News:

Hari Raya saat Wabah Virus Corona, Menteri Agama Imbau Umat Islam Salat Idul Fitri di Rumah Saja

Hari Raya saat Wabah Virus Corona, Menteri Agama Imbau Umat Islam Salat Idul Fitri di Rumah Saja

shutterstock
ILUSTRASI 

Ia meriwayatkan bahwa Rasulullah salat tarawih di bulan Ramadan sendirian sebanyak 20 rakaat. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Kedua, hadis yang diriwayat oleh Ibnu Hajar, "Rasulullah salat bersama kaum muslimin sebanyak 20 rakaat di suatu malam Ramadhan."

Ketiga, dalam sejarah Islam, Khalifah Umar bin Khattab menyelenggarakan salat tarawih dan witir 23 rakaat.

Hal ini dapat dilihat di dalam kitab al-Muwaththa’ Yazid bin Huzaifah yang berkata:

"Kaum muslimin pada masa Umar bin Khattab melakukan salat tarawih (dan witir) di bulan Ramadan sebanyak 23 rakaat."

Hal ini dilanjutkan pada masa khalifah Usman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib dan menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Dengan demikian jelas, bahwa umat Islam yang melaksanakan salat tarawih dan witir 11 rakaat atau yang 23 rakaat, sama-sama memiliki landasan, dan bukan karena nafsu.

Menurut Syamsul, perbedaan pendapat adalah rahmat, dan perlu saling menghargai.

"Begitu juga soal dua rakaat salam atau empat rakaat salam, sama-sama memiliki landasan," kata Syamsul.

Dalam shahih Bukhari (hadis nomor 990) dan shahih Muslim (nomor 749), ada sebuah hadis, Nabi bersabda:

"Shalat al-lail matsna, matsna", artinya "salat malam itu dua rakaat, dua rakaat."

Syamsul mengungkapkan, perbedaan ini adalah wajar, dan di sinilah pentingnya toleransi dan menghargai perbedaan pendapat.

Oleh karena itu imbuhnya, jangan sampai kesucian Ramadhan terkotori oleh adu argumen dan saling menyerang dengan dalil hanya karena perbedaan dalam pelaksanaan tarawih.

"Setiap muslim berhak mengatakan bahwa pemahamannya benar, tetapi tanpa harus menyalahkan muslim yang berbeda pandangan," pungkas dia.

Editor: eko darmoko
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved