AC Milan Ternyata Pernah Dipecundangi Pemain Kelahiran Situbondo, Maldini dan Shevchenko Dibikin KO
AC Milan Ternyata Pernah Dipecundangi Pemain Kelahiran Situbondo, Maldini dan Shevchenko Dibikin KO
SURYAMALANG.COM - Tidak banyak diketahui orang, bahwa ada pemain Indonesia yang bisa mempecundangi klub raksasa asal Italia, AC Milan.
Pemain itu adalah Rochy Putiray yang pernah menjadi langganan Timnas Indonesia.
Kisah Rochy Putiray mempecundangi AC Milan adalah saat ia berkarir bersama klub sepak bola asal Hong Kong.
Saat itu, AC Milan diperkuat bintang seperti Paulo Maldini dan Shevchenko.
Paolo Maldini mungkin saja masih mengingat momen tak terlupakan ketika AC Milan digasak Rochy Putiray.
Tak hanya Maldini, Andriy Shevchenko juga takjub lewat aksi Rochy Putiray.
Rochy Putiray menunjukan kelasnya ketika berhadapan melawan Maldini, Shevchenko, dan timnya saat itu AC Milan.

Membela klub asal Hong Kong, Rochy Putiray menampilkan kualitasnya dengan mencetak dua gol dan sekaligus membawa timnya Kichee SC menang 2-1 atas AC Milan pada 2004.
Rochy Putiray baru dipercaya bermain ketika laga sudah memasuki menit ke-67.
Tugasnya sangat berat karena timnya sudah tertinggal satu gol dari AC Milan yang dicetak oleh Shevchenko.
Gol pertama Rochy Putiray tercipta setelah ia mampu lolos dari pengawalan ketat bek AC Milan.
Berlari ke arah gawang lawan, pemain yang terkenal dengan gaya rambutnya itu mampu melepaskan tendangan usai menerima umpan mendatar dari sisi kiri pertahanan AC Milan.
Proses gol kedua juga hampir sama tercipta.
Rocky Putiray menerima umpan dari sektor kanan pertahanan AC Milan dan langsung memaksimalkan peluang itu dengan mencetak gol, skor berubah menjadi 1-2 untuk keunggulan Kicthee SC.
Dua gol Rochy Putiray membuat sejarah bagi persepakbolaan Hongkong.
Sebab, itu untuk pertama kalinya tim lokal bisa mengalahkan klub sebesar AC Milan yang saat itu dilatih oleh Carlo Ancelotti.

Perjalanan Rochy Putirai di Hong Kong
Petualangan pemain asal Situbondo, Jawa Timur, itu di Hongkong memang berubah-ubah.
Rochy Putiray memutuskan untuk berkarier di Hong Kong pada musim 2000 dengan bergabung bersama Instant-Dict FC usai memutuskan keluar dari Persija Jakarta.
Rochy Putiray hanya satu musim di klub tersebut dengan mencetak 12 gol dari 22 pertandingan.
Pada musim selanjutnya, ia memutuskan tetap berada di Hong Kong dan bergabung bersama klub Happy Valley.
Selama satu musim di klub itu, eks pemain Arseto Solo tersebut mencetak 17 gol dari 25 pertandingan.
Pada musim 2002, Rochy Putiray memutuskan untuk kembali ke Indonesia dengan bergabung bersama PSM Makassar.
Kariernya di PSM Makassar tidak cemerlang karena hanya mampu menciptkan empat gol dari 20 laga.
Akhirnya ia memutuskan kembali ke Hong Kong dengan membela South China AA pada musim 2003.
Rochy Putiray mencetak 42 gol dari 32 laga bersama South China AA.
Selanjutnya, ia kembali lagi ke Indonesia setelah mendapatkan tawaran dari Persijatim Solo FC atau yang sekarang bernama Sriwijaya FC.
Petualangan Rochy Putiray bersama Persijatim Solo FC hanya satu musim dan ia kembali lagi ke Hong Kong dengan bergabung bersama Kitchee SC pada 2004.
Dalam 26 pertandingan, Rochy Putiray menunjukan kualitasnya dengan melepaskan 43 gol.
Rochy Putiray akhirnya kembali lagi ke Indonesia pada tahun 2004 dan bergabung bersama PSPS Pekanbaru.
Pada musim 2007, ia memutuskan pensiun dari pesepakbola setelah terakhir kali memperkuat PSS Sleman.
Selama kariernya itu, Rochy Putiray memiliki ciri khas yang berbeda dengan pemain-pemain lain.
Pria berdarah Ambon itu selalu bergonta-ganti cat rambut yang berwarna terang.
Selain itu, pemain Timnas Indonesia tersebut juga terkadang memakai sepatu bola yang berbeda warna.
Rochy Putiray melakukan itu agar lebih percaya diri di atas lapangan.