Virus Corona di Surabaya

Mahasiswa PENS Ciptakan Ventilator Untuk Membantu Pernafasan Pasien Covid-19

Ventilator karya Mahasiswa PENS ini secara umum terdiri dari beberapa komponen, seperti stepper, rotary encoder, bluetooth transceiver, dan lcd

SURYAMALANG.COM/Zainal Arif
Ventilator Sederhana karya Mahasiswa PENS yang bisa digunakan untuk kebutuhan penanganan pasien covid-19, Kamis (28/5/2020). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Tiga mahasiswa D3 Teknik Telekomunikasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menciptakan Ventilator dengan sistem kontrol yang dapat membantu pernafasan pasien ketika membutuhkan bantuan pernafasan.

Tiga mahasiswa itu ialah, Ilham Dwi Pratama, Siti Nurkhomaria, dan Afella Sasqiaputri Anggraini yang menghabiskan waktu sekitar 3 minggu mulai dari proses mendesain sampai menjadi sebuah ventilator sederhana.

Ide membuat ventilator ini tak lepas dari kondisi melonjaknya jumlah pasien rumah sakit akibat Covid-19 menyebabkan alat bantu pernafasan seperti ventilator menjadi terbatas.

Ketua Tim, Ilham Dwi Pratama Menunjukan Ventilator Sederhana Hasil Buatan Bersama Timnya di Kos Daerah Gebang Putih, Sukolilo Surabaya, Kamis (28/5/2020).
Ketua Tim, Ilham Dwi Pratama Menunjukan Ventilator Sederhana Hasil Buatan Bersama Timnya di Kos Daerah Gebang Putih, Sukolilo Surabaya, Kamis (28/5/2020). (SURYAMALANG.COM/Zainal Arif)

Padahal di situasi Pandemi Covid-19, kebutuhan alat bantu pernafasan menjadi sesuatu yang sangat esensial.

Mengingat mekanisme pernapasan manusia yang dinamis dan tidak bisa dilakukan sedusisasi udara secara statis membuat diperlukan sistim kontrol untuk mereguasi kerja dari ventilator tersebut.

Ventilator karya Mahasiswa PENS ini secara umum terdiri dari beberapa komponen, seperti stepper, rotary encoder, bluetooth transceiver, lcd, tombol input yang dihubungkan langsung ke processor dan ditambah dengan analog input untuk mengembangkan fungsi assist control.

Ketua Tim, Ilham Dwi Pratama menjelaskan alat ventilator itu dapat memberikan respon yang cepat, mengatur tidal volume, fread respiratory rate, peak inspiratory pressure dan dapat melakukan asist control sehingga dapat membantu pernafasan pasien.

"Kami memakai metode non-infasif karena kami rasa lebih aman dan mudah digunakan sedangkan pada sistem pemompaan udara kami menggunakan sistem belt sehingga respon pompa cepat, memiliki reliability yang bagus, mudah untuk mendapat sparepart serta mudah di perbaiki dan di bangun," kata Ilham kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (28/5/2020).

Sistem kontrol dan sensor prosesor utama pada Ventilator ini menggunakan teensy 3.6 yang memiliki tenaga komputasi yang baik dengan fitur 32 bit 180 MHz ARM Cortex-M4 processor dengan floating point unit membuat kontrol menjadi lebih responsif dan dapat memaksimalkan fungsi assist control yang membutuhkan DSP yang Iintensif.

"Untuk pengambilan data digunakan dua sensor tekanan udara yang memiliki sistem membrane sehingga udara tidak terkontaminasi logam dari sensor," ujarnya.

Diakuinya, sejak kemunculan virus Covid-19 ini telah banyak pembahasan mengenai cheap ventilator yang dapat dibuat dengan bahan baku sederhana seperti Ambubag.

Namun mahasiswa asal Kabupaten Blitar ini menilai masih terdapat kekurangan dan melupakan aspek keamanan untuk pasien.

Proses pembuatan ventilator ini hanya menghabiskan biaya sekitar 5,5 juta rupiah .

Meskipun masih dalam tahap pengembangan inovasi ini akan dapat membantu tenaga medis dengan biaya yang terjangkau.

"Semoga dengan adanya ventilator ini dapat membantu tenaga medis dalam menangani pasien Covid-19 serta dapat mengatasi keterbatasan alat bantu pernapasan dengan biaya produksi yang lebih murah serta penggunaan yang lebih aman dan efisien untuk para pasien," pungkasnya.

Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved