Breaking News:

Berita Malang

Berita Malang Hari ini 1 Juli 2020 Populer: 16 Pasien Positif Covid-19 & Kurikulum Belajar Daring

Berikut berita Malang hari ini Rabu 1 Juli 2020 populer: 16 pasien positif Covid-19 dan kurikulum belajar daring

Suryamalang.com/kolase Tribun Bali/Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Ilustrasi Pasien Covid-19 dan belajar daring 

Dikatakan, meski nanti Covid-19 tidak ada lagi, perlu dilakukan fleksibilitas kurikulum. Karena masalah tidak hanya pandemi Covid, bisa jadi ada bencana alam lainnya. Misalkan tsunami, konflik sosial, perang.

Sehingga pemerintah harus menyiapkan kurikulum yang adaptif.

Bahkan dari PGRI juga mengusulkan adanya kurikulum darurat bencana. Ini mengisyaratkan ada kebutuhan masyarakat akan itu.

Selain adaptif juga perlu melibatkan kearifan lokal dalam pembelajarannya.

Sedang Zubaidah, Kadikbud Kota Malang di webinar itu menyatakan dalam pembelajaran daring perlu juga kesiapan orangtua dalam mendukung anak.

Sehingga bisa membantu mengontrol anaknya dalam proses belajar daring. Sebab karena kondisinya masih pandemi, maka kurang ada aktifitas tatap muka guru-siswa.

Dikatakan, banyak sekolah di Kota Malang ingin buka. Tapi situasinya belum memungkinkan.

Sehingga saat libur semester ini, para guru sedang mempersiapkan diri untuk pembelajaran daring pada semester depan seperti lewat workshop.

Sejauh ini, untuk sekolah menengah disebut Zubaidah memanfaatkan 13 jenis model daring, termasuk portal di kesatuan pendidikan.

Namun Maman memberi masukan agar jangan banyak portal. Tapi bisa membuat portal terintegrasi.

Sedang menghadapi masa kenormalan baru, sekolah-sekolah juga mempersiapkan diri. Sehingga pembelajaran dilakukan dengan pola hidup bersih dan sehat.

Saat ini dilakukan pemetaan sekolah yang memenuhi standar saat offline nanti. Sudah dibentuk tim untuk penyusunan instrumen sekolah sehat, penyusupan SOP dll.

Semua sekolah kini juga sudah memiliki thermo gun, pemetaan wastafel dan kamar mandi agar sesuai dengan jumlah warga sekolah. Jika belum, maka bisa direncanakan pengadaan untuk sarpras lainnya.

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UM, Dr Henry Praherdhiono MPd dengan pembelajaran daring, teknologi termudah bisa dimanfaatkan oleh guru jika misalkan hanya mampu di "word".

"Misalkan google. Ada doc, klik. Tinggal ditulis apa yang ingin disampaikan dipublikasikan ke WA-WA orangtua," katanya.

Ia mencontohkannya dengan mengirim link hasil tulisan di doc itu ke WA. Nantinya orangtua bisa meng klik. Ini disebut konstruksi belajar dipermudah. Hal ini karena kondisi tiap guru berbeda dalam teknologi.

3. Cara UMKM Bertahan di Tengah Pandemi

Pekerja Shoeka Shoes saat menata sepatu yang siap dikirim kepada pemesan. Foto: TribuJatim/Aminatus Sofya
Pekerja Shoeka Shoes saat menata sepatu yang siap dikirim kepada pemesan. Foto: TribuJatim/Aminatus Sofya (SURYAMALANG.COM/Aminatus Sofya)

Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah di Kota Malang turut merasakan dampak buruk pandemi Covid-19.

Pendapatan harian mereka merosot tajam. Beberapa di antaranya mencari solusi dengan menggencarkan pemasaran secara online.

Pemilik usaha sepatu rumahan Shoeka Shoes, David Wantino, mengatakan pemesanan produknya turun 30 sampai 40 persen karena pandemi Covid-19.

Biasanya, pemesanan sepatu setiap bulan Tidak kurang dari 1000 pasang.

“Sekarang rata-rata 600 pasang pesanan. Berkurang 30 sampai 40 persenanlah,” tutur David, saat ditemui di rumah produksinya, Selasa (30/6/2020).

Agar usahanya bertahan di tengah pandemi, David mengandalkan promosi berupa pemotongan harga.

Cara tersebut, relatif dapat mengerek penjualan meski tak terlalu signifikan.

“Sejak awal Presiden mengumumkan pasien 01 dan 02, kami langsung gerak cepat sih bikin promosi. Dan hal itu kami lakukan sampai sekarang,” tutur dia.

Sejak usahanya berdiri, kata David, ia memang mengandalkan pemasaran secara online ketimbang offline.

Transaksi di tokonya, hampir 90 persen dilakukan daring. Sampai kini, Shoeka Shoes hanya memiliki satu toko offline yang berlokasi di Jalan Danau Maninjau, Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang.

“Pemesanan paling banyak datang dari instagram, kedua website dan ketiga dari maketplace seperti Shopee,” ujar pria kelahiran Blitar ini.

David mengatakan belum pernah merumahkan karyawannya meski penjualan merosot.

Sebanyak 45 pekerja Shoeka Shoes tetap mendapat gaji seperti biasa dan tunjangan hari raya (THR).

Pun produksi Shoeka Shoes masih stabil yakni 30 hingga 45 pasang setiap hari.

“Karena kami sistemnya pre order jadi sesuai permintaan saja. Tetapi produksi tetap kok, antara 30 sampai 45 tiap hari,” ucap David.

Bahan Baku Terkendala

David sempat merasakan terkendala bahan baku akibat pandemi virus corona.

Salah satu bahan yang dia impor dari China, tersendat karena negara Tirai Bambu memberlakukan kebijakan karantina wilayah alias lockdown.

“Kalau langka kan pasti harga bahan jadi mahal ya. Tapi kami nggak kemudian naikin harga sepatunya. Selama masih ada margin untung, oke saja,” aku dia.

Selain itu, penjualan sepatu ke sejumlah negara seperti Malaysia dan Singapura juga mandeg karena kedua negara lockdown.

Akibatnya, pesanan sepatu tertahan di jasa pengiriman dan membuat sikulasi bisnis David menjadi terganggu.

David berharap pemerintah bisa segera mengambil tindakan agar pandemi Covid-19 segera mereda.

Sebab jika situasi tak normal terus berlangsung, ia khawatir banyak UMKM terus mengalami kesulitan bahkan bangkrut.

“Semoga pemerintah cepat mengambil kebijakan supaya kami tahu harus ngapain,” tutupnya.

(Aminatus Sofya/Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah/Sylvianita Widyawati/Sarah Elnyora/SURYAMALANG.COM)

Penulis: Sarah Elnyora
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved