Virus Corona di Jatim
IDI Jatim Minta Perhatian Khusus dari Pemerintah Setelah Dua Nakes Meninggal Dalam Dua Hari
Saat ini Surabaya sedang berada di puncak Pandemi Covid-19 sehingga beban dari tenaga kesehatan semakin berat.
SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur meminta perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat untuk bersama-sama menekan angka penularan Covid-19 terutama di Kota Surabaya.
Menurut Ketua IDI Jatim, Sutrisno, saat ini Surabaya sedang berada di puncak Pandemi Covid-19 sehingga beban dari tenaga kesehatan semakin berat.
"Untuk itu kita minta perhatian khusus agar dari hulunya beban bisa berkurang artinya new normal bisa diterapkan dengan bagus dan kasus baru berkurang serta beban RS berkurang," kata Sutrisno, Rabu (1/6/2020).
Sutrisno menjelaskan, perjuangan rumah sakit dan tenaga kesehatan dalam memerangi Covid-19 ini masih lama.
Jika pun pandemi berakhir, nantinya akan ada kasus dan penyakit bawaan dengan Covid-19.
"Ada ibu hamil dengan Covid-19, orang sakit jantung dengan covid, dan orang sakit ginjal dengan covid dan lain-lain," lanjutnya.
Untuk itu, menurut dokter spesialis kandungan ini bantuan pemerintah akan sangat dibutuhkan dalam mencukupi pelayanan dasar dan menjaga kemanan dan kesehatan petugas serta kesejahteraannya terutama yang menangani Covid-19.
Sementara itu kabar duka kembali datang dari tenaga kesehatan (Nakes) di Kota Surabaya.
Sulastri, seorang perawat Rumah Sakit Islam (RSI) di Jalan Ahmad Yani, Surabaya meninggal setelah terpapar Covid-19.
Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jatim, Prof. Nursalam mengungkapkan perawat tersebut meninggal setelah menjalani perawatan di rumah sakit tempatnya bekerja.
Dengan meninggalnya Sulastri, hingga saat ini ada 11 perawat di Jawa Timur yang meninggal akibat terpapar Covid-19. Sementara total perawat yang terpapar Covid-19 di Jatim sebanyak 146 orang.
"Iya yang bersangkutan meninggal positif Covid-19. Total perawat terkonfirmasi positif ada 146 orang. Sementara perawat yang meninggal akibat Covid-19 ada 11 orang," kata Nursalam.
Sehari sebelumnya Selasa (30/6/2020) dr Arief Basuki, dokter anestesi yang sehari-hari bertugas di Rumah Sakit Haji Surabaya juga meninggal dunia karena Covid-19.
"Iya (dr. Arief meninggal), semua dokter anestesi menangani pasien COVID-19. Dokter intensive care dia," kata dr. Brahmana Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya.
Sebelum meninggal dunia, dr Arief sempat menjalani perawatan selama sepekan lebih di RSUD dr Soetomo, namun kondisinya terus memburuk dan dinyatakan meninggal Selasa petang pukul 17.25 WIB.
Di Surabaya, dr Arief adalah dokter kesepuluh yang meninggal akibat Covid-19 dalam catatan IDI Surabaya.
(Sofyan Arif Candra)