Breaking News:

Memanas Australia Siapkan Kapal Selam Serbu dan Rudal Pembunuh Hadapi Tiongkok di Laut China Selatan

Australia telah mengeluarkan anggaran militer $270 miliar hadapi China di Laut China Selatan dan Laut Timur

Artikel Tribunmedan.com: " Diguyur Rp 2.700 Triliun, Inilah Daftar Senjata yang Diborong Australia untuk Menghadapi China"
Ilustrasi Artikel Memanas Australia Siapkan Kapal Selam Serbu dan Rudal Pembunuh Hadapi Tiongkok di Laut China Selatan 

Sedangkan anggaran $7miliar untuk satelit jaringan komunikasi independen, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan Pertahanan di luar angkasa.

David Axe kontributor forbes dalam artikelnya berjudul: Australia Has A Plan For Battling China—Add Lots And Lots Of Submarines merinci jenis kapal perang yang akan dibangun Australia.

Angkatan Laut Australia berencana untuk mengganti fregat yang lebih tua, menambah kapal patroli, pencari ranjau dan kapal pendukung dan, yang paling mengesankan, menggandakan armada kapal selam.

Armada pada tahun 2020 dibangun di sekitar dua kapal serbu kelas Canberra berkapasitas 28.000 ton dan Choule, sebuah kapal pendarat amfibi 16.000 ton.

Tiga kapal perusak kelas Hobart 7.000 ton baru dan delapan fregat ANZAC, berbobot 3.600 ton, mengawal armada amfibi.

Empat penyapu ranjau dan 14 kapal patroli melakukan patroli rutin dan menjaga jalur laut tetap bersih.

Satu, kapal logistik 47.000 ton mendukung armada.

Dan kemudian ada kapal selam.

Enam kapal diesel-listrik kelas Collins, berbobot 3.000 ton.

Kapal selam sebenarnya sangat tidak cocok bentangan Samudra Pasifik yang luas dan dalam tapi tepat untuk memerangi armada China, yang tidak memiliki pengalaman dalam perang anti-kapal selam.

Jadi tidak mengejutkan bahwa Canberra menginginkan lebih dari mereka.

Selusin kapal selam serbu, berbobot 4.500 ton, adalah jantung dari armada masa depan.

Dua belas kapal patroli lepas pantai yang lebih besar menggantikan sebagian besar kapal patroli.

Armada penyapu ranjau berlipat ganda menjadi delapan.

Dua kapal logistik baru menggantikan yang sekarang.

Sembilan fregat 7.000 ton baru berdasarkan British Type 26 menggantikan delapan ANZAC.

Kekuatan amfibi dan pendukung tumbuh dengan penambahan dua kapal hybrid sealift dan logistik baru.

Konflik di Laut China Selatan Memanas Kapal Perang AS-China hanya 100 meter

Sementara itu melansir dari Artikel Kontan.id: " Konflik kian nyata di Laut China Selatan, jarak kapal perang AS-China hanya 100 meter "

China dan Amerika Serikat menghadapi risiko konflik yang kian nyata di Laut China Selatan. Untuk menghindarinya, kedua pihak dinilai harus bisa mengelola krisis seperti ketika kapal perang mereka berada dalam lokasi yang berdekatan.

Seorang sumber militer China mengatakan bahwa dalam satu insiden di bulan April, kapal-kapal dari kedua negara saling berdekatan sejauh 100 meter.

"Insiden semacam itu menunjukkan kurangnya kepercayaan politik antara kedua militer," kata sang sumber seperti dikutip South China Morning Post.

Namun sang sumber itu tidak menyebutkan kapal perang mana yang terlibat dalam pertemuan itu.

Beijing dan Washington telah berkompetisi untuk mengerahkan lebih banyak kapal perang ke wilayah tersebut sejak kru di kapal induk yang berbasis di Pasifik Amerika, USS Theodore Roosevelt dan USS Nimitz terpapar virus corona pada akhir Maret.

Sementara kapal-kapal Angkatan Laut People's Liberation Army (PLA) China yakni Liaoning dan Shandong, tampaknya tidak terpengaruh oleh wabah corona.

Hu Bo, Direktur Pusat Studi Strategi Maritim di Universitas Peking, mengatakan penyebaran baru dilakukan AS termasuk dengan mengirimkan kapal serbu amfibi USS America. 

Sementara Angkatan Laut PLA juga mengerahkan sejumlah kapal yang serupa.

Dia mengatakan Amerika Serikat membuat penyebaran baru karena khawatir bahwa China mungkin mengambil keuntungan dari kekosongan kekuatan di Laut China Selatan yang dihasilkan dari wabah virus corona.

Dia mengatakan kedua belah pihak sebagian besar tetap profesional dan terkendali dalam insiden di bulan April, tetapi ada risiko bahwa insiden tersebut dapat mengakibatkan kesalahan perhitungan dan meningkat menjadi konflik militer.

"Perilaku provokatif semacam ini sepenuhnya didorong oleh kebutuhan politik yang ditujukan untuk menunjukkan kekuatan, tetapi aksi itu bisa saja menjadi kecelakaan," katanya.

Ini bukan pertama kalinya kedua angkatan laut melakukan pertemuan dalam jarak dekat. Pada bulan Oktober 2018, foto udara yang diambil oleh Angkatan Laut AS menunjukkan sebuah kapal perusak China bergerak dalam jarak 41 meter dan hampir bertabrakan dengan kapal perusak USS Decatur selama pertempuran tegang di Laut Cina Selatan.

Hu mengatakan kedua negara harus membuat mekanisme manajemen krisis yang efektif untuk menangani insiden seperti itu.

Collin Koh, seorang peneliti di Institut Studi Pertahanan dan Strategis, yang berbasis di Universitas Teknologi Nanyang di Singapura, mengatakan kedua belah pihak harus mendokumentasikan insiden semacam itu untuk menunjukkan apa yang terjadi, termasuk dengan foto dan umpan radar.

“Benar-benar tidak profesional jika ada kapal perang yang berusaha sedekat ini. Meskipun saya bertanya-tanya mengapa pihak China bahkan membiarkan itu terjadi,” kata Koh.

Penulis: Farid Farid
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved