Nasional

Ngeri, Begini Modus Fakboi PDKT ke Para Siswi, Setelah Memacarinya Lalu Dijual ke Pria Hidung Belang

Ngeri, Begini Modus Fakboi PDKT ke Para Siswi, Setelah Memacarinya Lalu Dijual ke Pria Hidung Belang

Editor: eko darmoko
IST
Ilustrasi 

SURYAMALANG.COM, PONTIANAK - Muncikari berkedok fakboi mendekati cewek di bawah umur, memacarinya, kemudian menjualnya kepada pria hidung belang.

Bisnis prostitusi online yang menyeret korban dari kalangan pelajar perempuan ini digulung Polresta Pontianak.

Polresta Pontianak, Kalimantan Barat, mengungkap adanya sindikat prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur.

Pelaku diduga menggunakan modus memacari korban sebelum ditawarkan lewat aplikasi MiChat.

“Mereka adalah sindikat. Modusnya berpacaran, lalu mereka juga menjual pacarnya kepada pria hidung belang,” kata Kapolresta Pontianak Kombes Pol Komarudin kepada wartawan, Jumat (24/7/2020) sore.

Dari hasil pemeriksaan, sebelum beraksi, komplotan ini memesan sejumlah kamar di sebuah hotel.

Setelah semuanya siap, mereka menawarkan korban melalui aplikasi tersebut.

Setelah ada respons, calon konsumen datang ke hotel dan melakukan aktivitas seksual.

“Dari hasil pemeriksaan sementara terungkap mereka menjual korban seharga Rp 300.000 sampai Rp 1 juta,” ungkap Komarudin.

Diberitakan, Polresta Pontianak, Kalimantan Barat, mengungkap praktik prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur.

Dalam perkara tersebut, sebanyak empat orang muncikari dan seorang pengguna jasanya ditangkap.

Sementara ada dua korban anak masih dalam penanganan.

“Mereka semuanya sebaya,” kata Komarudin.

Orangtua Korban Lapor Anaknya Tak Pulang Komarudin menerangkan, terungkapnya kasus ini, berawal dari laporan orangtua korban yang merasa heran anaknya tidak pulang.

“Dari laporan itu kita dalami, kita coba intai melalui aplikasi online, akhirnya ketemu,” ungkap Komarudin.

Dari penyelidikan, petugas akhirnya mengamankan lima tersangka, yang terdiri dari seorang pengguna jasa, dan empat tersangka lainnya yang menjajakan dua korban.

Tersangka yang melakukan hubungan badan dengan korban diancam dengan Pasal 81 Ayat 2 Undang-undang tentang Perlindungan Anak, ancaman hukuman 15 tahun dan denda Rp 15 miliar.

“Sementara pelaku yang melakukan eksploitasi seksual yang menjajakan, menawarkan, kami jerat dengan Pasal 88 Undang-undang tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 10 tahun dan denda Rp 200 juta,” pungkas Komarudin.

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved