Breaking News:

Berita Malang

Berita Malang Hari Ini Rabu 2 September Populer: Petugas ATM Ditodong Senjata & Akta Tanah Digital

Berikut berita Malang hari ini Rabu 2 September 2020 populer: petugas ATM Mandiri ditodong senjata dan akta tanah digital.

Suryamalang.com/kolase
ATM Mandiri dan Wali Kota Malang, Sutiaji bersama Wakil Menteri ATR BPN 

Oleh karenanya, pihaknya saat ini sedang melakukan berbagai macam upaya untuk menyelesaikan hal tersebut.

Salah satunya ialah melakukan kerjasama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Malang.

"Karena di tahun 2021, Jawa Timur mintanya hanya kota saja. Jadi nanti akan ada 8 kota yang harus dimulai untuk tertib administrasi," ucapnya.

Kendala utama yang kini sedang dihadapinya ialah banyaknya berkas yang sudah hilang.

Sehingga memaksa pihaknya untuk melakukan inventarisasi data mulai dari awal lagi.

"Jadi kita harus mengungkap mulai dari nol lagi. Dan digitalisasi data itu bukan untuk siapa-siapa. Hanya agar asal usul tanahnya itu jelas," ucapnya.

Sementara itu, Wakil Menteri ATR BPN, Surya Tjandra menargetkan digitalisasi sertifikat tanah di seluruh Indonesia selesai pada 2024.

Menurutnya, Indonesia saat ini sudah cukup terlambat selama 60 tahun dibandingkan dengan Malaysia yang sudah memulainya sejak tahun 1950.

"Ini tantangan kita. Sebagai negara bekas kolonial kita belum bisa beresin. Karena dari dulu sudah terkavling-kavling," ucapnya.

Dia menjelaskan, melalui program sertifikat berbasis digital itu, informasi yang terdapat dalam sertifikat dapat lebih mudah diakses.

Yakni melalui scan barcode yang terdapat di dalam sertifikat satu lembar ataupun melalui data digital.

"Ini untuk memperkuat basis pendataan. Sehingga nanti ada kepastian atas tanah yang dimiliki dan mengurangi praktik manipulasi," tandasnya.

3. Kekecewaan Relawan di Ponpes Blokagung Atas Komentar Nyinyir

Relawan menyiapkan makanan untuk kebutuhan klaster pondok pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi. Mereka menyayangkan munculnya nyiyiran tentang kinerja mereka sementara tidak ada yang ikut membantu
Relawan menyiapkan makanan untuk kebutuhan klaster pondok pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi. Mereka menyayangkan munculnya nyiyiran tentang kinerja mereka sementara tidak ada yang ikut membantu (SURYAMALANG.COM/Haorrahman)

Relawan yang membantu di Dapur Umum Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi menyayangkan munculnya komentar-komentar nyinyir yang melecehkan kinerja mereka.

Karena respon yang tidak baik yang bermunculan di media sosial itu, para relawan yang membantu menyediakan makanan bagi 6 ribu santri di Ponpes itu siap menarik diri.

Sudah tiga hari sejak penerapan karantina terpusat klaster covid 19, Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Minggu (30/8/2020) hingga Selasa (1/9/2020), para relawan yang berasal dari masyarakat, Taruna Siaga Bencana (Tagana), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, di dapur umum bekerja memenuhi konsumsi untuk 6000 santri.

Namun selama dua hari bukan terima kasih yang mereka dapat, tapi nyinyiran di media sosial.

Karena nyinyiran itu para relawan tersebut akan menarik diri dari dapur umum.

Selama dua hari terakhir, banyak berseliweran nyinyiran dan sindiran di media sosial dan Whats App Grup, terkait kinerja para relawan dapur umum.

Seperti video yang menyindir makanan makan siang baru datang pukul 18.30.

Video tersebut berlatar belakang sebuah kamar yang berisi remaja mengenakan sarung.

"Alhamdulilah nasi bungkus untuk makan siang datang pukul 18.30 WIB, pas," suara dalam video tersebut.

Ada pula sindiran bantuan mie instan berstandart WHO.

Sindiran terkait menu makanan, hingga para relawan yang dianggap tidak bekerja.

Ada pula ucapan terima kasih yang hanya mencantumkan bantuan dari Pemprov Jatim.

"Kalau tidak bisa berterima kasih lebih baik diam saja. Jangan dipaido (dihina). Kalau ada kekurangan, iya. Kami ini tidak berhenti masak. Relawan itu bekerja bayarannya tidak jelas, mungkin juga tidak dibayar," kata Abdul Kadir, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, ditemui di dapur umum klaster Ponpes Blokagung, Selasa (1/9/2020).

Kadir mengakui di hari pertama, banyak kendala teknis yang dihadapi.

Mulai dari persiapan hingga membangun tenda logistik yang membutuhkan waktu dan tenaga, sehingga sarapan di hari pertama datang terlambat.

Ini karena keputusan mendirikan dapur umum baru diputuskan, Sabtu (29/8/2020) malam, setelah sebelumnya melakukan koordinasi dengan pihak pondok, sementara Minggu (30/8/2020) harus sudah dilaksanakan.

"Hari pertama itu pertama kalinya kami melakukan persiapan. Apalagi keputusannya mendadak. Banyak yang harus dilakukan sementara tenaga kami sedikit," kata Kadir.

Tidak mudah untuk menyediakan makanan 6.000 porsi tiap kali makan, sehingga dalam satu hari dapur umum harus menyediakan 18.000 porsi makanan.

Mereka harus memasak sendiri untuk memenuhi standart kesehatan yang telah ditetapkan.

"Para relawan itu bekerja hampir 24 jam. Hanya tidur 1 sampai 2 jam. Karena kalau istirahat keterlambatan akan semakin panjang. Kalau masih seperti ini, kami akan menarik diri. Pulang saja," tegas Kadir.

Belum lagi makanan harus berstandar kesehatan. Harus ada nasi, buah, lauk, dan sayur. Kemasannya pun harus nasi kotak, bukan nasi bungkus.

Kadir mengatakan ini bukanlah bencana yang biasa para relawan hadapi, seperti gempa, banjir, atau lainnya.

"Ini adalah bencana covid 19 yang musuhnya tidak kelihatan. Mereka bertaruh nyawa di sini. Tolong dihargai. Kalau tidak bisa tolong jangan ngoceh saja. Datang ke sini lihat sendiri. Kalau mereka ini pulang, tidak ada sanksi untuk mereka," katanya.

Mantan Kepala Dinas Perizinan Banyuwangi itu mengatakan, di hari ketiga, Selasa (1/9/2020), semunya mulai berjalan normal ketika bantuan tenaga dari Dinas Sosial Pemprov Jatim dan aparat TNI Komando Daerah Militer (Kodam) V/Brawijaya Jawa Timur datang ke Banyuwangi.

Kadir mengatakan dengan bantuan tenaga ini sangat membantu untuk menyiapkan kebutuhan makan.

Kadir menambahkan seluruh bahan makanan berasal dari APBD Banyuwangi yang diambilkan dari dana Biaya Tak Terduga (BTT).

Tris Edi, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) mengatakan, para relawan ini baru tiba di dapur umum pada Minggu (30/8/2020) pukul 02.00 pagi langsung bekerja mempersiapkan makanan dan segala sesuatunya.

"Hari pertama itu kami harus menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari peralatan, tenda, bahan makanan, dan memasak. Kami hanya tidur 1 hingga 2 jam saja secara bergantian. Tolonglah hargai kami," kata Edi.

Dedi Utomo, Koordinator Taggana Banyuwangi mengatakan, relawan yang diperbantukan ini sudah banyak yang berpengalaman mempersiapkan makanan saat PSBB di Surabaya dan Sidoarjo.

"Banyak yang sudah berpengalaman di PSBB Surabaya dan Sidoarjo. Di sana mempersiapkan 12.000 porsi sehari. Sementara di Banyuwangi 18.000 porsi," kata Dedi. 

(Kukuh Kurniawan/Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah/ Haorrahman/Sarah/SURYAMALANG.COM)

Penulis: Sarah Elnyora
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved