Breaking News:

4 Urutan Gejala yang Dirasakan Saat Tertular Covid-19, Lakukan Isolasi Mandiri Jika Merasakannya

Berikut adalah empat urutan gejala yang dirasakan saat tertular virus corona atau Covid-19. Segera isolasi mandiri jika mengalami hal-hal berikut ini

Penulis: Frida Anjani | Editor: eko darmoko
Kompas.com
Ilustrasi situasi selama pandemi Covid-19 

Penulis: Frida Anjani | Editor: Eko Darmoko

SURYAMALANG.COM - Berikut adalah empat urutan gejala yang dirasakan saat tertular virus corona atau Covid-19

Bagi anda yang merasakan gejala-gejala berikut ini dianjurkan untuk segera melakukan isolasi mandiri

Beberapa gejala Covid-19 sebetulnya hampir sama dengan penyakit lain yang tidak berbahaya.

Namun, pandemi Covid-19 yang belum juga membaik dan justru kasusnya meningkat, membuat orang paranoid jika merasa tidak sehat.

4 Urutan Gejala yang Dirasakan Saat Tertular Covid-19, Lakukan Isolasi Mandiri Jika Merasakannya
4 Urutan Gejala yang Dirasakan Saat Tertular Covid-19, Lakukan Isolasi Mandiri Jika Merasakannya (Kompas.com)

Bahkan, beberapa orang mencurigainya sebagai gejala Covid-19.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Univerity of Southern California (USC), merinci tentang gejala Covid-19 yang biasa muncul.

Menurut penemuan penelitian, urutan gejala Covid-19 yang banyak dialami pasien adalah:

1. Demam

2. Batuk dan sakit otot

3. Mual atau muntah

4. Diare

Menurut penelitian tersebut, gejala-gejala tersebut biasanya juga muncul secara berurutan.

"Urutan ini penting khususnya untuk membedakannya dengan penyakit seperti flu biasa yang menunjukkan gejala serupa," ungkap salah satu penulis studi sekaligus profesor kedokteran, teknik biomedis dan kedirgantaraan dan mesin di USC, Peter Kuhn, PhD, seperti dilansir Healthline.

Fakta ini mungkin bisa membantu orang-orang yang terinfeksi Covid-19 untuk segera melakukan isolasi mandiri dan mendapatkan perawatan segera, yang mana sangat berdampak pada tingkat kesembuhan.

Data pasien di Cina

Untuk memprediksi urutan gejala, para peneliti menganalisa tingkat kejadian gejala yang dikumpulkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dari lebih dari 55.000 kasus terkonfirmasi di Cina.

Mereka juga melihat kumpulan data dari hampir 1.100 kasus yang dikumpulkan selama Desember hingga Januari oleh China Medical Treatment Expert Group untuk Covid-19, dan disediakan oleh Komisi Kesehatan Nasional Cina.

Untuk membandingkan urutan gejalanya dengan influenza, para peneliti menganalisa data lebih dari 2.000 kasus Covid-19 di Amerika Utara, Eropa, dan bagian bumi selatan, yang dilaporkan oleh otoritas kesehatan antara 1994 hingga 1998.

ILUSTRASI - Pasien dengan gejala ringan virus corona COVID-19 melakukan tes tekanan darah di Wuhan, Hubei, China (17/2/2020). Dalam artikel Update virus corona di Malang Raya hari ini Senin 24 Agustus 2020.
ILUSTRASI - Pasien dengan gejala ringan virus corona COVID-19 melakukan tes tekanan darah di Wuhan, Hubei, China (17/2/2020). Dalam artikel Update virus corona di Malang Raya hari ini Senin 24 Agustus 2020. (Kolase shutterstock via Kompas.com/AFP/STR/CHINA OUT)

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pasien dengan flu musiman lebih umum mengalami batuk terlebih dahulu sebelum timbul demam.

"Pada kenyataannya, ini mungkin sulit untuk dilihat karena flu sering kali dimulai secara tiba-tiba dengan tiga serangkai gejala, termasuk sakit punggung, menggigil, dan batuk kering," ucap dokter darurat Rumah Sakit Lenox Hill, Dr. Robert Glatter, kepada Healthline.

Menurut penelitian tersebut, jika influenza umumnya diawali oleh gejala batuk, Covid-19 cenderung diawali demam.

Temuan ini menguatkan bukti bahwa demam bisa dijadikan salah satu acuan untuk menyaring orang yang masuk ke fasilitas tertentu.

"Hasil penelitian kami mendukung gagasan bahwa demam harus digunakan untuk menyaring masuk ke fasilitas-fasilitas umum," kata para penulis penelitian.

Untuk mencegah penularan, tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan Covid-19, seperti mengenakan masker di ruang publik, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, hingga tidak menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang kotor.

Daftar 5 Provinsi dengan Kasus Covid-19 Tertinggi dan 5 Provinsi dengan Jumlah Kematian Tertinggi

Persentase kasus aktif positif Covid-19 di Indonesia per 10 September 2020 masih berada di bawah rata-rata dunia dengan kisaran 24,7 persen atau 51.237 kasus.

Rata-rata dunia di kisaran angka 25,04 persen.

Jumlah kasus sembuh berada di angka 147.510 kasus atau 71,2 persen dengan perbandingan rata-rata dunia 71,7 persen.

Untuk kasus meninggal di Indonesia, ada 8.456 kasus atau 4,1 persendibandingkan rata-rata dunia 3,24 persen.

Meski demikian masih terjadi penambahan kasus positif Covid-19 mencapai 3.861 kasus.

"Kondisi ini tentunya, terlihat bahwa beberapa waktu terakhir ini penambahan kasus positifnya selalu meningkat dan cukup tinggi, dan perlu menjadi perhatian kita semuanya, pemerintah daerah dan seluruh masyarakat untuk mengendalikan kasusnya lebih baik," jelas Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, melalui siaran digital, Jumat (11/9/2020).

Berdasarkan analisis data mingguan per 6 September, terdapat tren dari zonasi dan kasus.

Pada peta zona risiko, saat ini ada 70 kabupaten/kota dengan zona merah (tinggi), 267 kabupaten/kota dengan zona oranye (sedang) dan 114 kabupaten/kota dengan zona kuning (rendah) dan 63 kabupaten/kota zona hijau.

Ada 5 provinsi dengan kasus tertinggi, yakni DKI Jakarta (46.333), Jawa Timur (35.643), Jawa Tengah (15.351), Sulawesi Selatan (12.684), dan Jawa Barat (12,505).

Lalu 5 provinsi dengan jumlah kematian tertinggi adalah Jawa Timur (2.545), DKI Jakarta (1.271), Jawa Tengah (1.084), Sulawesi Selatan (371), dan Kalimantan Selatan (370).

Provinsi dengan persentase kematian tertinggi adalah Jawa Timur (7,14%), Jawa Tengah (7,06%), Bengkulu (6,65%), Sumatera Selatan (5,95%), dan Nusa Tenggara Barat (5,9%).

Selain itu, 11 kota dengan kasus aktif di atas 1.000, yaitu Kota Bekasi (1.025), Jakarta Utara (1.043), Kota Depok (1.043), Kota Surabaya (1.116), Jakarta Selatan (1.149), Jakarta Pusat (1.312), Kota Makassar (1.363), Jakarta Barat (1.372), Jakarta Timur (1.429), Kota Medan (1.454), dan Kota Semarang (2.591).

Adapun ketersediaan tempat tidur dan ICU khusus di DKI Jakarta per 8 September, 7 dari 67 (10,5%) rumah sakit rujukan Covid-19 mengalami penuh terisi 100%.

Lalu 46 dari 67 (68,6%) terisi di atas 60%, sedangkan 14 dari 67 (20,9%), terisi di bawah 60%.

"Bahwa rumah sakit darurat Covid-19 di Wisma Atlit, juga memiliki kamar-kamar untuk perawatan terutama pasien kondisi sedang dan ringan, jumlah kamar yang ada pada saat ini 2.700 tempat tidur, dan terisi 1.600. Jadi masih ada 1.100 tempat tidur untuk perawatan pasien dengan status sedang dan ringan.

Selain itu, di fasilitas yang bertempat di Kemayoran, Jakarta Utara itu, pemerintah juga membuat isoloasi mandiri dengan kapasitas total 4.800 kamar yang terdiri dari 2 tower, terdiri dari tower 4 dan 5.

Fasilitas ini digunakan untuk menampung masyarakat yang menderita Covid-19 dengan diagnosa orang tanpa gejala (OTG) yang tidak bisa melakukan isolasi mandiri di rumahnya masing-masing.

"Untuk itu perlu adanya surat rekomendasi dari puskesmas atau kelurahan setempat sehingga bisa dirawat di isolasi mandiri," ucapnya. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved