Pilbup Malang

Akademisi UMM : Makna Politik di Pilbup Malang Sudah Bergeser, Ingatkan Isu Utama Kesehatan

Kata Rinekso politik yang semula bermakna usaha bersama untuk kebaikan bersama,menjadi usaha untuk mencapai kekuasan namun tidak berbagi kepada rakyat

Penulis: Benni Indo | Editor: Dyan Rekohadi
Dok. Pribadi Rinekso Kartono
Akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rinekso Kartono 

Penulis : Benni Indo , Editor : Dyan Rekohadi

SURYAMALANG.COM, MALANG – Akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rinekso Kartono menyampaikan pendapat dan kritiknya terkait pesta demokrasi Pilbup Malang dari sisi politik.

Ia mengatakan kalau makna politik kerap disalahartikan saat ini.

Katanya, politik yang semula bermakna usaha bersama untuk kebaikan bersama,menjadi usaha untuk mencapai kekuasan namun tidak berbagi kepada rakyat.

“Tapi dibagi kepada kelompok dan pendukung. Secara umum, di Indonesia kurang etik sehingga tidak sejahtera,” kata Rinekso yang menjabat sebagai Dekan FISIP UMM, Jumat (30/10/2020).

Mengutip penjelasannya ilmuan dari Amerika Serikat, Alfred Joseph Kahn bahwa kesejahteraan itu buka persoalan ekonomi, melainkan kesehatan. Ketika masyarakat sehat, maka masyarakat bisa beraktivitas normal.

“Maka bagaimana program kesehatan menjadi isu utama. Justru bantuan sosial bisa menyengsarakan rakyat karena membuat rakyat tidak mandiri secara politik,” katanya.

Isu berikutnya yang menurutnya perlu dikembangkan untuk mencapai kesejahteraan adalah tentang pendidikan.

Pasalnya, isu pendidikan dapat mengangkat harkat dan martabat manusia.

Dikatakannya, pendidikan di Indonesia masih perlu banyak perbaikan.

Belum maksimalnya program-program pendidikan berdampak terhadap masyarakat itu sendiri.

Setelah itu, ada isu soal keadilan yang menurut Rinekso masih jauh dari harapan. Keadilan nampak begitu jauh bagi masyarakat kelas bawah.

Hal itu terjadi karena adanya campur tangan kelompok kapitalis dalam pencalonan kepala daerah.

“Awalnya pro rakyat, tapi ketika terpilih, kembali ke kaum kapital. Berkaca praktik politik di Malang Raya. Sejak era Mochammad Ibnu Rubianto, yang memainkan politik adalah para kapital bukan rakyat. Permainan kapital juga terjadi di Kabupaten Malang hari ini,” katanya.

Kesejahteraan juga soal ketenagakerjaan. Para calon harus bisa memetakan berapa banyak pengangguran di Kabupaten Malang, lalu mencari solusi untuk menekan jumlah pengangguran agar tidak tinggi.

Akibat kondisi yang seperti itu, Rinekso mengatakan yang menjadi korban adalah masyarakat.

Masyarakat harus memilih, namun di satu sisi, ada kecenderungan jika calon terpilih, keberpihakan tidak kepada rakyat.

“Ibarat sedang berada di meja makan, kalau dimakan makanannya beracun, kalau tidak makan mati. Kalau kecewa ya kecewa, tapi mudah-mudahan tidak sampai membuat kecewa yang keterlaluan,” jelasnya. 

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved