HUT Harian Surya 31

Kisah Ubah Laku Tim URC BPBD Kab Kediri Perangi Corona, Sudah Siapkan Kantong Jenazah untuk Anggota

Tugas relawan tim Unit Reaksi Cepat BPBD kabupaten Kediri menangani corona sangat berisiko untuk kehilangan nyawa

Penulis: Farid Farid | Editor: isy
farid mukarom/suryamalang.com
Komandan Unit Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Kediri, Windoko, yang melakukan penanganan Covid-19 Maret hingga Oktober 2020. 

SURYAMALANG.COM | KEDIRI - Mendapat tugas dengan bersentuhan langsung pasien Covid-19 bukan hal yang mudah dilakukan oleh relawan tim Unit Reaksi Cepat BPBD kabupaten Kediri. Pasalnya tugas yang diberikan ini sangat berisiko untuk kehilangan nyawa. 

Komandan Unit Reaksi Cepat BPBD kabupaten Kediri yang melakukan penanganan Covid-19 sejak Maret hingga Oktober 2020, Windoko, mengatakan bahwa dirinya sudah siap untuk menerima risiko kehilangan nyawa dalam tugasnya.

"Kami saat itu mendapat tugas dari pimpinan pada tanggal 18 Maret 2020 untuk edukasi masyarakat, pendampingan kepada pasien Covid-19 dan pemakaman pasien Covid-19," kata Windoko.

Menurut Windoko alasan dirinya mengambil tugas ini adalah karena alasan kemanusiaan dari hati nurani.

"Saya yakin Allah SWT akan melindungi kami saat bertugas menolong saudara kami," ucapnya.

Namun, ia mengakui bahwa sempat ada rasa takut atau khawatir terhadap tugasnya.

"Rasa takut ini semua logis ya sebagai cara kita untuk waspada. Bagi kami di URC kita tidak boleh terlalu takut, karena ini akan mempengaruhi psikologis. Ketakutan ini pasti karena kami juga punya keluarga," ujar Windoko.

Windoko juga tak membantah bahwa dirinya sempat dijauhi oleh kerabat dan temannya karena tugasnya ini.

"Saya sempat dijauhi oleh masyarakat yang kurang paham mengenai Covid-19, sama orang dekat juga. Semakin berjalannya waktu orang mulai sadar mengenai Covid-19. Kami tidak menyalahkan orang - orang yang dulu menjauhi kami, karena mereka masih minim pengetahuan akan Covid-19," tuturnya.

Kemudian Windoko menceritakan mengenai momen mengharukan dalam penugasan menjadi relawan lapangan Covid-19.

"Setiap hari pagi siang dan malam kami melakukan pemulasaran jenazah Covid-19. Setiap saat saya berpikir mungkin suatu waktu nanti saya yang akan berada di sana (Makam)," ungkapnya.

Selain itu Windoko juga menemukan pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri di rumah mengalami depresi akibat dijauhi oleh tetangga.

"Mereka sempat ada yang mau bunuh diri, kemudian saya datangi saya beri motivasi bahwa musibah ini adalah bencana bersama bukan aib. Ini ujian dari Tuhan untuk meningkatkan derajat manusia," jelasnya.

Sebagai komandan URC, Windoko juga bertanggung jawab atas keselamatan anak buahnya dalam menangani pasien Covid-19.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved