Breaking News:

Berita Batu Hari Ini

Kiprah Perempuan Tani di Kota Batu yang Ingin Putus Mata Rantai Tengkulak Demi Kesejahteraan

Mayoritas wanita di Kota Batu adalah petani. Namun dengan jumlah yang mayoritas itu belum tentu bisa menghadirkan kesejahteraan dari sektor pertanian.

SURYAMALANG.COM/Benni Indo
Ketua Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kota Batu, Mardi Setia Ningsih (kedua dari kiri) bersama rekan-rekannya yang tergabung di Perempuan Tani HKTI Kota Batu, Rabu (18/11/2020) 

SURYAMALANG.COM, BATU – Mayoritas perempuan di Kota Batu adalah petani.

Namun dengan jumlah yang mayoritas itu belum tentu bisa menghadirkan kesejahteraan dari sektor pertanian.

Banyak petani perempuan masih menjadi buruh di ladang-ladang majikannya. Lebih susah lagi, mereka tidak bisa menjual hasil pertanian secara bebas.

Pasalnya, para tengkulak sudah ‘mengunci’ peluang penjualan hasil pertanian yang mereka tanam di tanah sewa.

Ketua Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kota Batu, Mardi Setia Ningsih mengungkapkan, hampir 80 persen perempuan di Kota Batu adalah petani.

Di depan rumahnya, perempuan tani banyak berkumpul setiap pagi. Mereka kemudian diangkut dengan pikap menuju ladang masing-masing.

Bukan ladangnya sendiri. Sebagian besar adalah ladang sewa. Nilai sewanya paling rendah berkisar Rp 2,5 juta.

Namun harga jual hasil pertanian selalu lebih rendah karena dimainkan oleh tengkulak. Harga yang dijual tengkulak di pasar bisa lebih mahal hingga 100 persen dari harga petani.

Hal-hal semacam itulah yang membuat petani jauh dari kata sejahtera.

Melihat masih sulitnya perempuan tani mencapai kesejahteraan, Perempuan Tani HKTI Batu berupaya memutus rantai tengkulak yang selama ini tidak menguntungkan perempuan tani.

Halaman
123
Penulis: Benni Indo
Editor: Zainuddin
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved