Breaking News:

Berita Batu Hari Ini

Longsor Menjadi Bencana Alam Paling Banyak Terjadi di Kota Batu, Ada 26 Titik Longsor di Awal 2021

BPBD Batu mencatat ada 26 titik longsor di Kota Batu. Kemudian luapan banjir di 4 titik dan 3 kejadian plengsengan ambrol.

SURYAMALANG.COM/Benni Indo
Kendaraan berat membersihkan material tanah yang longsor ke jalan di kawasan Desa Tlekung, Kota Batu, Senin (18/1/2021). Bencana alam longsor paling banyak terjadi di Kota Batu ketika musim penghujan datang. 

Sedangkan biaya renovasi atau perbaikan dari dampak kerugian diperkirakan mencapai Rp 2,9 miliar.

Anggaran perbaikan dikucurkan melalui anggaran belanja tidak terduga (BTT) yang tahun ini dialokasikan sebanyak Rp 10,8 miliar.

BPBD Batu tidak mencatat adanya korban jiwa sepanjang terjadinya bencana alam sejak awal Januari 2021.

Hanya kerugian material karena berdampak pada bangunan fisik seperti rumah atau plengsengan maupun saluran irigasi.

Sedangkan pada Desember 2020, ada 25 bencana alam yang terjadi di Kota Batu.

Longsor tetap menjadi bencana yang mendominasi Kota Batu.

Untuk menghindari adanya korban akibat bencana yang terjadi, BPBD Kota Batu melakukan tindakan kesiapsiagaan dengan menargetkan 15 unit pemasangan alat early warning system (EWS) pendeteksi tanah longsor.

Kepala BPBD Kota Batu, Agung Sedayu mengatakan telah menganggarkan enam alat EWS pada 2021.

Saat ini Kota Batu telah memiliki empat unit EWS. Sementara yang dibutuhkan sebanyak 15 unit.

Harga per unit EWS sekitar Rp 110 juta. Dengan rincian ekstensometer sekitar Rp 55 juta dan warning system-nya sekitar Rp 47 juta.

“Karena itu kami mengajukan enam alat pendeteksi longsor tahun 2021.Pengadaan dilakukan secara bertahap. Enam alat tersebut nantinya akan dipasang di desa/kelurahan yang rawan terjadi longsor. Seperti permukiman yang di sekitarnya terdapat daerah lereng,” urainya.

BPBD memetakan beberapa daerah yang rawan longsor seperti di Kecamatan Bumiaji meliputi Desa Sumber Brantas, Tulungrejo, Gunungsari, Sumbergondo. Selain itu, satu titik berada di kawasan payung, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu.

"Alat ini nantinya akan mengidentifikasi pergerakan tanah yang dideteksi oleh kabel baja ekstensometer. Sehingga ketika ada pergeseran tanah, alarm akan berbunyi," ungkapnya. 

Penulis: Benni Indo
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved