Kamis, 23 April 2026

Penanganan Covid

Nano Chitosan dari Kulit Udang dan Cangkang Kepiting untuk Pengobatan Covid-19, Riset Dosen ITS

Bahan baku kulit udang ini dipilih karena jumlah limbahnya di Indonesia yang melimpah dan diolah dengan teknologi metode baru jadi nano chitosan

Penulis: sulvi sofiana | Editor: Dyan Rekohadi
its.ac.id
Salah satu dosen ITS, Yuli Setiyorini ST MPhil PhD Eng yang melakukan riset nano chitosan dengan bahan kulit udang dan cangkang kepiting untuk pengobatan pasien Covid-19 

Penulis : Sulvi Sofiana , Editor : Dyan Rekohadi

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Satu lagi inovasi untuk penanganan Covid-19 dilakukan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui riset nano chitosan memanfaatkan bahan kulit udang dan cangkang kepiting.

Riset nano chitosan dengan bahan kulit udang dan cangkang kepiting untuk pengobatan pasien Covid-19 ini dilakukan salah satu dosen ITS, Yuli Setiyorini.

Baca juga: Alat Deteksi Covid-19 Melalui Bau Keringat Ketiak Karya Guru Besar ITS, I-Nose C-19 Sudah Uji Klinis

Yuli Setiyorini dibantu oleh Sungging Pintowantoro, Kepala Laboratorium Pengolahan Mineral dan Material, Departemen Teknik Material dan Metalurgi, Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem ITS.

Keduanya melakukan kolaborasi riset teknologi berupa nano chitosan dengan metode baru sejak tahun 2010.

Tujuannya untuk mengembangkan chitosan sebagai material untuk aplikasi medis dan industrial dengan metode yang ramah lingkungan dari bahan baku lokal.

Rini, sapaan akrab Yuli Setiyorini menjelaskan chitosan merupakan biopolimer sejenis selulosa yang ditemukan pada kerangka luar beberapa hewan laut seperti kerang, kepiting, lobster, dan udang.

Untuk penanganan pasien Covid-19 dengan chitosan, dikatakan Rini akan mengurangi replikasi virus dalam tubuh.

Sehingga meningkatkan daya tahan tubun dengan memicu naiknya level macrophage, sDC (dendritic cell) dan NK (natural killer cell) yang memegang peranan penting dalam perlindungan infeksi virus.

" Naiknya leukosit (sel darah putih) seiring dapat mengaktifkan sel imun bawaan yang berdampak terhadap peningkatan sekresi cytokines,"paparnya.

Sekadar diketahui, sekresi cytokines berperan penting sebagai antiviral properties.

Properties regeneration dari chitosan juga dapat memperbaiki jaringan yang rusak karena terinfeksi, di mana kerusakan jaringan paru menimbulkan kesulitan bernafas.

Ditambah sifat antiinflammation dan antioksidan dari chitosan dapat mengurangi proses peradangan dan oxidative stress selama proses penyembuhan.

“Pemilihan chitosan sebagai theraputic agent dikarenakan multi properties yang dimilikinya, yang berpotensi sebagai therapeutic agent multifunction,” bebernya.

Pengujian secara klinis ini dilakukan Rini dengan memberikan chitosan secara gratis untuk terapi bagi yang membutuhkan.

Ia juga tetap ingin dapat membantu sesama yang membutuhkan hingga seterusnya, sebagai sumbangsih kemanfaatan ilmu yang telah diperoleh.

“Alhamdulillah, penelitian kami memberikan harapan bagi para pasien tersebut dan proses kesembuhan juga sangat signifikan,” tegasnya.

Dosen Teknik Material dan Metalurgi ini memaparkan riset chitosan yang dilakukannya tidak menggunakan bahan kimia (green technology) dengan memanfaatkan energi dari gelombang mikro.

"Sehingga produk yang dihasilkan sudah pada skala nano partikel (nano chitosan) dan memiliki sifat perbaikan jaringan yang lebih cepat,"tegasnya.

Produk chitosan dengan metode proses yang baru ini menggunakan bahan baku kulit udang dan limbah organik lain yang mengandung chitin seperti cangkang kepiting, beberapa cangkang binatang laut, serangga serta tumbuhan jamur dan alga.

"Bahan baku kulit udang ini dipilih karena jumlah limbahnya di Indonesia yang melimpah,"urainya.

Selama ini olahan limbah kulit udang tersebut hanya berkisar untuk pakan ternak dan campuran pelet makanan binatang, Karena itu ia memilih limbah kulit udang untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat.

“Sebab kalau tidak diolah malah dapat memicu terjadinya gas methane yang berbahaya,” ujarnya.

Rini mengatakan, riset ini berawal dari kesulitannya dalam mendapatkan produk chitosan dengan kualitas medis yang sesuai dengan penelitian yang sedang dilakukan di Laboratorium Pengolahan Mineral dan Material.

Yakni pengembangan tissue regeneration dari material nonbiologis untuk memiliki sifat biologis, sehingga dapat menyembuhkan luka.

"Kunci sukses pada bidang biomaterials, khususnya pengembangan medical devices for replacement yang salah satunya berupa implant. Sehingga dapat mengurangi kegagalan penggunaan medical devices replacement dalam tubuh,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Rini menyampaikan bahwa pencarian material yang memiliki potensi tersebut jatuh pada chitosan yang memiliki banyak sifat untuk aplikasi medis seperti antibacterial, antiviral, wound healing, antiinflammation, antioxidant, biodegradable, biocompatibility, non-toxic dan masih banyak lagi.

Untuk diketahui, potensi sifat-sifat tersebut sangat dipengaruhi oleh proses pembuatan atau produksi chitosan itu sendiri

Meskipun chitosan sudah banyak diperjualbelikan di pasaran, lanjut Rini, namun belum tentu sifatnya sama persis atau kualitas dan performanya sama.

Perlu pengkajian dalam proses pembuatannya hingga ia menemukan banyak kekurangan terutama pada tingkat efisiensi dan ramah lingkungan.

Seperti produk chitosan hasil risetnya yang memanfaatkan gelombang mikro.

“Dengan teknik yang berbeda pada proses konvensional yang menggunakan bahan kimia, alhamdulillah properties (sifat) chitosan juga berbeda,” tutur alumnus Curtin University of Technology, Western Australia ini.

Lulusan doktor dari Institute Materials for Research (IMR), Tohoku University, Jepang ini juga membeberkan bahwa chitosan yang ia kembangkan bukan hanya untuk aplikasi medis.

Namun juga bisa diaplikasikan untuk industri pengolahan makanan, industri pertanian, industri perikanan, tekstil, kertas, sampai biosorption logam tanah jarang dan logam berat lainnya.

"Tapi yang paling utama adalah menciptakan kemandirian dalam membuat dan memproduksi sendiri dari bahan baku lokal dalam rangka meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dengan proses yang murah dan ramah lingkungan,"tegasnya.

Sungging menambahkan produknya ini diharapkan berkualitas medis dengan tingkat efisiensi yang tinggi, murah dan ramah lingkungan.

"Secara tidak langsung, hal tersebut menjawab tantangan isu dalam proses pembuatan chitosan yang saat ini masih belum efisien,"lanjutnya.

Produk chitosan milik Rini ini beberapa sudah diuji baik uji in-vitro maupun in-vivo.

Chitosannya ini juga telah diaplikasikan sebagai dental filler, bone cement, implant coating, antibacterial dan therapeutic agent.

"Pengujian secara klinis juga sudah dilakukan kepada pasien sukarela dengan trackrecord medis yang sudah tidak mampu lagi ditangani oleh dokter,"tegasnya.

Serta ada beberapa pasien yang memang tidak memiliki asuransi kesehatan tetapi penyakit yang diderita membutuhkan biaya yang besar seperti kanker, diabetes, bacterial diseases, virus diseases, Covid-19 dengan penyakit bawaan (penyerta), dan pneumonia serta beberapa penyakit lainnya.

Saat disinggung mengenai kendala risetnya, ia mengungkapkan biaya produksi dan rumitnya birokrasi kesehatan menjadi kendala terbesar.

Sehingga ia berharap adanya mitra yang juga memiliki jiwa kemanusiaan dan sosial untuk program gratis chitosan bagi yang membutuhkan terutama bagi masyarakat tidak mampu.

Harapannya, dari risetnya ini Indonesia tidak lagi bergantung pada produk impor, sehingga kemandirian pada bahan baku lokal yang dapat dikelola dan dimanfaatkan bisa diaplikasikan untuk pemenuhan masyarakat Indonesia dengan proses yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

“Harapan ke depan, ITS dapat membaca potensi dan prospek dari hasil pengembangan laboratorium-laboratorium yang ada, salah satunya dengan dukungan dan support fasilitas laboratorium di ITS baik itu di departemen maupun laboratorium bersama,” pungkasnya.

Catatan Redaksi: Bersama-kita lawan virus corona. SURYAMALANG.COM mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. Ingat pesan ibu, 3M (Memakai masker, rajin Mencuci tangan, dan selalu Menjaga jarak).

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved