Breaking News:

Berita Malang Hari Ini

Dubes RI untuk Kolumbia dapat Gelar Doktor Honoris Causa Bidang Etika Diplomasi dari UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan gelar Doktor Honoris Causa pada Drs Priyo Iswanto MH, Duta Besar LBBP RI untuk Republik Kolombia

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: eko darmoko
UMM
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan gelar Doktor Honoris Causa pada Drs Priyo Iswanto MH, Duta Besar LBBP RI untuk Republik Kolombia, merangkap Antigua dan Barbuda, Saint Cristopher dan Nevis, Sabtu (30/1/2021). 

SURYAMALANG.COM, DAU - Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan gelar Doktor Honoris Causa pada Drs Priyo Iswanto MH, Duta Besar LBBP RI untuk Republik Kolombia, merangkap Antigua dan Barbuda, Saint Cristopher dan Nevis, Sabtu (30/1/2021).

Gelar doktor ilmu sosial dalam bidang etika diplomasi diberikan atas komitmen dan kontribusinya dalam aspek diplomasi selama pengabdiannya di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI.

"Beliau patut dan layak menyandang gelar doktor berkat kapasitas intelektual dan keberhasilannya dalam menjalankan diplomasi," kata Rektor UMM Dr Fauzan MPd.

Ia menyebutkan salah satunya karena peran dan strategis dalam upayanya meminimalisasi tuduhan dunia akan keberlanjutan industri sawit.

Gelar yang diperolehnya sebagai rekognisi akademik yang harus dimaknai untuk memainkan peran hidup yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Prof Dr Muhadjir Effendy MAP, Menko PMK yang juga perwakilan Badan Pembina harian (BPH) UMM mengatakan Priyo layak mendapat gelar ini.

Sebab selama ini UMM tidak gampang memberikan gelar doktor honoris causa. Sejauh ini hanya tiga orang yang diberikan gelar itu.

“Peranan Pak Priyo ternyata tidak hanya meyakinkan pasar akan kedudukan sawit. Tapi juga mencoba menggandeng kekuatan-kekuatan yang belum terbangun di dunia dalam aspek kelapa sawit. Hal ini  sangat jitu untuk menghadapi tantangan yang ada di pasar global,” jelas Muhadjir.

Pada orasi ilmiahnya, ia menyatakan srategi meningkatkan reputasi kelapa sawit, khususnya dari perspektif tujuan pembangunan dan berkelanjutan (SDGs) plus. Dikatakan, kelapa sawit bisa dilihat dan dipahami melalui empat dimensi yang ada. Yaitu dimensi ekonomi, sosial, lingkungan serta moral.

Sedang dari aspek ekonomi, kelapa sawit dinilai menjadi faktor penting dalam menekan angka kemiskinan dan mengurangi kelaparan. Juga mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan pekerjaan yang layak. Namun kelapa sawit juga memiliki tuduhan negatif.

Padahal lahan kelapa sawit lebih hemat dibanding  kedelai maupun kanola. Selain itu, kelapa sawit juga menyumbang emisi gas karbondioksida hanya lima persen.

Data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sait Indonesia (GAPKI), kelapa sawit menyerap 161 ton karbondioksida dan menghasilkan oksigen sebanyak 18,7 ton/ha per tahun.

Dubes RI kelahiran Kudus ini juga telah berprakarsa kepada Kolombia untuk menjadi anggota Dewan Negara Produsen Sawit (CPOPC). Dikatakan,  bergabungnya Kolombia akan mampu memperkuat  CPOPC dan dukungan untuk melawan kampanye hitam terhadap komoditas minyak sawit dunia.

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved