Breaking News:

Sejarah & Cara Perekrutan Teroris JAD, Pakar UINSA : Ciptakan Lone Wolf dan Serangan Serampangan

Sebenarnya bagaimana sepak terjang kelompok JAD dan hubungannya dengan kelompok lain, seperti JI ?

Editor: Dyan Rekohadi
TRIBUNJATIM/dok pribadi
Muhammad Najih Arromadloni, Pengamat Terorisme dan Timur Tengah UIN Sunan Ampel Surabaya yang juga menjabat sebagai Sekretaris Badan penanggulangan ektremisme dan Teroris (BPET) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat 

Penulis : Luhur Pambudi , Editor : Dyan Rekohadi

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Deretan aksi teror di Negeri ini identik dengan aksi kelompok atau jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Islamiyah (JI).

Sebenarnya bagaimana sepak terjang kelompok JAD dan hubungannya dengan kelompok lain, seperti JI ?

Lalu seperti apa karakteristik gerakan mulai dari mekanisme pengkaderan anggota baru, ideologi yang menjadi misi gerakan, hingga sasaran aksinya ?

Artikel ini berisi ulasan terkait jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas.

Seperti diketahui, 2 peristiwa teror baru saja terjadi di Makassar dan Jakarta.

Tiga tahun yang lalu aksi teror beruntun terjadi di kota Surabaya.

Insiden penyerangan menggunakan senjata jenis airgun di Kompleks Markas Besar (Mabes) Polri, pada Rabu (31/3/2021) diketahui pelakunya wanita berinisial ZA (25).

ZA terpapar paham yang dibawa Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), yang merupakan afiliasi dari JAD.

Sebelumnya, insiden bom bunuh diri depan pagar Gereja Katedral, Jalan Kahaolalido, MH Thamrin, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021)

Hasil investigasi polisi menyebut dua orang pelaku, berinisial L (26) dan YSF (21) adalah pasangan suami istri (Pasutri) yang tergabung JAD dan pernah terlibat aksi pengeboman di Sulu, Jolo, Filipina, beberapa tahun lalu.

Insiden bom bunuh diri  di gereja terjadi di Surabaya pada tahun 2018.

Tiga gereja dalam waktu bersamaan menjadi sasaran bom bunuh diri yang dilakukan oleh empat orang pelaku, Minggu (13/5/2018).

Para pelaku berinisial DO, PK, FS, dan PR. Mereka masih satu keluarga, terdiri dari dua pasutri dan dua orang anak.

Masih di hari yang sama, sebuah bom dengan karakter ledakan yang sama kembali terjadi.

Tapi ledakan pada malam hari terjadi di sebuah rumah susun (Rusun) Blok B, lantai 5, Rusun Wonocolo, Taman, Sidoarjo, sekitar pukul 21.20 WIB.

Bom meledak di tempat tinggal pelakunya,  yang kemudian teridentifikasi 3 orang masih satu keluarga, berinisial AF (47), P (47), HA (17).

Sehari setelahnya itu, terjadi ledakan bom bunuh diri untuk ketiga kali, yakni di Mapolrestabes Surabaya, sekitar pukul 08.00, Senin (14/5/2018). Pelakunya adalah pasutri yang mengajak dua anak kecil mereka ; TM, TE, MDS, dan MDA.

Setahun kemudian, insiden penyerangan seorang anggota Mapolsek Wonokromo, dilakukan seorang teroris berinisial IM (33), sekitar pukul 16.45 WIB, Sabtu (17/8/2019).

Berdasarkan hasil investigasi pihak Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri, Polda Jatim, dan Polrestabes Surabaya, para pelaku teror bom dan penyerangan aparat tahun 2018-2019 itu merupakan anggota JAD yang berafiliasi dengan ISIS.

TribunJatim.com (Grup SURYAMALANG.COM) berkesempatan mewawancarai Muhammad Najih Arromadloni, Pengamat Terorisme dan Timur Tengah UIN Sunan Ampel Surabaya yang juga menjabat sebagai Sekretaris Badan penanggulangan ektremisme dan Teroris (BPET) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, pada Kamis (1/4/2021).

Berikut petikan wawancaranya:

#Apa perbedaan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Islamiyah (JI) yang acap disebut sebagai penyebab aksi teror di Indonesia?

Jadi JAD ini punya karakteristik baru yang berbeda dengan kelompok JI, yang disebut dengan lone wolf. Ini serangan yang individu atau sifatnya lebih kecil jadi sifatnya trendnya ke sana.

Kalau dulu aksi teror itu direncanakan oleh sebuah organisasi. Ada pimpinannya, ada strukturnya, ada perangkat pendukungnya.

Tapi sekarang ini aksi teror ini, lebih kecil sekupnya. Bisa jadi individu. Bisa jadi kelompok yang sangat kecil. Misalkan, kakak dengan adiknya. Suami dengan istrinya.

JAD, dilihat dari segi serangannya. Skalanya lebih kecil, dibanding JI. Kelompok JI, bom Bali, bomnya sampai berton-ton. Tapi JAD ini lebih banyak menggunakan serangan yang seadanya, dengan pisau atau bensin dengan pembakaran.

Kalau di insiden Makassar, memang dengan bom. Tapi bomnya juga skalanya kecil, dibandingkan bomnya JI.

JAD sebetulnya mereka bisa bergerak tanpa ada pimpinan. Bahayanya adalah ideologi yang telah ditanamkan itu. Makanya beberapa pihak menyatakan bahwa leaderless jihadis.

Bisa jadi mereka bahkan sudah tidak terkoneksi lagi dengan ISIS di Timur Tengah, maksudnya secara individu. Bisa saja seperti itu, yang tentunya beda dengan JI semuanya terpimpin.

JAD ini ngawur. Kalau dulu JI bagaimana pun mereka kelompok teror. Tapi sedikit-sedikit masih punya aturan. JI itu tidak sembarangan menyerang dan lebih memilih serangannya itu.

Dulu JI, misalkan menyerang gereja, sifatnya adalah memperingatkan orang-orang kristen yang ada di Ambon dan Poso. Karena sudah dianggap membantai teman-teman mereka.

Tapi JAD ini ngawur. Dia bisa menyerang siapa pun. Tanpa memilih targetnya. 

#Bagaimana JAD ini melakukan rekrutmen anggota baru?

JAD lebih memang lebih menekankan rekrutmen secara daring dan sporadis. Siapa pun, oleh JAD, bisa direkrut. Berbeda dengan JI. Ada tahapan-tahapan dia melakukan rekrutmen.

Begitu pula dalam aksi pun. Instruksinya, kalau dulu, adalah mengimbau agar para jihadis ini berangkat ke teritorial mereka di Irak dan Suriah, waktu masih eksis.

Tapi kan sekarang instruksi mereka agar melakukan amaliyah di tempatnya masing-masing.

Jadi anggota JAD di Jatim bisa melakukan aksinya di Jatim, begitu juga dengan tempat lain, dan dengan peralatan seadanya. Ketika ada pisau atau kapak, semua bisa dilakukan.

Termasuk, senjata bom. Mereka menyediakan tutorial bunuh diri itu di internet.

Ini sebetulnya menuntut Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkomifo-RI) karena kenapa tutorial pembuatan bom itu, semakin dibiarkan bebas di internet. Tutorial bom bunuh diri bisa diakses

Ini berbeda dari JI. Mereka harus menyelundupkan senjata dari Filipina.

Kalau JAD enggak. Mereka memberikan tutorial, tapi terbuka sifatnya.

Rekruitmen mereka juga bisa dilihat, melalui facebook (FB) atau twitter, dan saluran media sosial (medsos) lainnya. Jadi sebenarnya, tidak rahasia-rahasia amat.

#Mengapa kelompok teror itu kerap memilih tempat ibadah sebagai objek aksi?

Kalau yang menargetkan penyerangan kantor polisi. Itu motifnya dendam, karena teman-temannya ditangkapi polisi.

Adapun untuk tempat ibadah. Itu sebetulnya adalah bentuk dari balas dendam terhadap barat yang dianggap mereka beragama Kristen.

Motif ketiga, mereka ingin memperkeruh hubungan antar agama yang terjalin dengan baik. Jadi mereka berusaha merusak hubungan yang harmonis. Islam maupun agama-agama lain, dengan Kristen.

Mereka ini memang menargetkan kerusuhan dengan menyerang gereja. Agar supaya ada respon dari orang-orang Kristen dan nanti akan dilawan kembali orang-orang Islam. Sehingga kedua agama ini bisa dipecahkan.

#Apakah setiap eksekutor aksi penyerangan selalu menyiapkan surat wasiat sebelum beraksi?

Kalau dari isi konten surat itu. Yang bersangkutan sudah terpapar ideologi salafi wahabi. Karena isu yang diangkat dalam surat tersebut, itu adalah sama seperti yang diangkat oleh kelompok salafi wahabi.

Misalnya tauhid. Dalam hal ini keharusan mengesakan Tuhan, termasuk dalam berhukum, makanya dia melarang demokrasi, UUD, Pancasila dan seterusnya.

Kemudian kita melihat narasi antiperbankan yang disitu tertulis antiriba. Dan juga materi-materi lainnya.

Soal (adanya) surat wasiat. Sebetulnya tidak semua (pelaku) meninggalkan surat wasiat. Mengapa seseorang itu bisa melakukan. Dia perempuan usia 25 tahun, sangat muda. Bisa masuk ke Mabes Polri dengan sendirinya, itu memang pengaruh ideologi yang saya katakan bahwa ideologinya sangat ngawur, tidak sistematis gerakannya sporadis, JAD itu.

Dengan iming-iming janji surga, dan terjadinya akhir jaman. Narasi seperti itulah yang memotivasi tindakan seperti itu. Terlihat dari isi wasiatnya, ia berharap langsung ke surga, menolong orangtua dan keluarganya masuk ke surga.

#Bagaimana sejarah awal kemunculan JAD di Indonesia?

JAD ini kelompok afiliasinya ISIS di Timur Tengah. Sejarah masuknya di Indonesia, tahun 2014. Melalui seorang yang namanya Aman Abdurahman.

Kaitannya dengan JI. Anggota JI waktu itu tahun 2014, banyak yang menyeberang ke JAD. Karena pimpinannya saat itu, yakni Abu Bakar Ba'asyir berbaiat pada ISIS Khilafah.

Jadi Abu Bakar Ba'asyir sempat membelot dari JI lalu baiat terhadap ISIS setelah dideklarasikan di Timur Tengah. Itulah yang membuat pengikut Abu Bakar Ba'asyir bergabung dengan JAD.

Tapi sampai sekarang imamnya JAD adalah Aman Abdurahman, terpidana mati, cuma belum dieksekusi.

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved