Breaking News:

Pakar Ilmu Komunikasi UB Soroti Kualitas Jurnalistik dan Peristiwa Effendy Gazali

Mundurnya pakar ilmu komunikasi Effendy Gazali sebagai dosen Universitas Indonesia, dan mengembalikan 'mahkota' gelar profesornya menarik perhatian.

Tribunnews/JEPRIMA
Effendy Gazali 

SURYAMALANG.COM, MALANG- Peristiwa mundurnya pakar ilmu komunikasi Effendy Gazali sebagai dosen Universitas Indonesia, sekaligus mengembalikan 'mahkota' gelar profesornya menarik perhatian pakar ilmu komunikasi Universitas Brawijaya, Rachmat Kriyantono, PhD.

Melalui keterangan tertulis kepada SURYAMALANG.COM, RK sapaan akrabnya, membahas lebih jauh kualitas praktek jurnalistik saat ini. Pasalnya, alasan mundurnya Effendy Gazali adalah kekecewaannya terhadap pelanggaran kode etik yang banyak dilakukan oleh jurnalis.

"Jurnalistik merupakan salah satu bidang ilmu komunikasi. Bidang lainnya ada kehumasan, komunikasi pemasaran, dan penyiaran. Ilmu komunikasi ini bersifat multidisiplin maka semua bidangnya pun bersifat generalis," ujarnya.

Generalis bermakna semua disiplin keilmuan bisa berkarir di bidang profesi komunikasi. Beda halnya dengan profesi dokter yang khusus hanya bisa dimasuki lulusan mahasiswa kedokteran.

Di satu sisi lain, kondisi tersebut menguntungkan karena bidang komunikasi selalu hadir dalam setiap detik nafas masyarakat.

"We cannot not communicate, kata ilmuwan komunikasi dari kelompok Palo Alto di Amerika Serikat. Manusia pun disebut 'animal simbolicum' karena selalu mengelola simbol (kumpulan simbol disebut pesan) sebagai bahan dasar proses komunikasi," papar lelaki yang menjabat sebagai Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi ini.

RK mengemukakan, jurnalistik dan bidang ilmu komunikasi pada dasarnya adalah praktik mengelola simbol-simbol (pesan) untuk ditransmisikan kepada masyarakat. Transmisi ini yang disebut proses komunikasi. Transmisi simbol yang mengandung makna dan pada akhirnya bisa dipahami orang lain disebut informasi.

Menurutnya, karena sebagai kebutuhan hidup, wajar jika komunikasi berkembang menjadi industri komunikasi atau informasi. Teknologi komunikasi ikut mendorong perkembangan ini, bahkan membuat eskalasi dampak komunikasi makin berganda.

"Masyarakat makin tidak bisa lepas dari terpaan komunikasi (ubiquitous of communication). Industri komunikasi bisa menstimulus ekonomi, demokratisasi, masyarakat informasi, dan sebagainya," urainya.

Namun juga ada hal yang perlu diwaspadai. Industri komunikasi menuntut ketersediaan SDM yang profesional dan berkualitas. Terpaan informasi yang terus-menerus, repetisi, simultan, dan akumulatif dari televisi, surat kabar, radio, dan internet memiliki dampak besar, yakni bisa mengubah dan membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat.

Halaman
123
Penulis: Benni Indo
Editor: Zainuddin
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved