Ramadan 2021

Adaptasi Tradisi Baru, Ramadan Tanpa Mudik

Ramadan di Indonesia tidak saja selalu dilekatkan dengan ibadah puasa, salat tarawih, zakat maal dan zakat fitrah.

Editor: isy
MUI Jatim
Prawitra Thalib, Sekretaris Lembaga Pemuliaan Lingkungan dan SDA MUI Jatim dan Kaprodi Magister Kajian Ilmu Kepolisian Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga 

Antara Rindu dan Masalahat
Dilematis memang.

Namun apabila melihat dari tingkat kemashlahatannya maka upaya terbaik demi melindungi rakyat Indonesia dari pandemi covid-19 adalah melalui pembatasan interaksi antara satu dengan yang lain.

Tidak hanya interaksi kepada sesama manusia interaksi kepada Tuhan Yang Maha Esa pun tak luput dari pembatasan, betapa tidak dahulu ketika Covid-19 muncul di Bumi Nusantara larangan salat berjamaah di masjid maupun kegiatan keagamaan di rumah ibadah lain seakan-akan telah mengurangi jarak antara manusia dan Tuhannya.

Walaupun jarak tersebut bersifat abstrak namun rasa rindu akan nikmat beribadah seolah-olah telah dirampas oleh sang Pencipta itu sendiri.

Walaupun pada Ramadhan 1442 H/2021 aktivitas di tempat ibadah khususnya salat berjamaah
telah diperbolehkan, namun tetap saja ada yang kurang sempurna.

Sebagai contoh demi mengaplikasikan protokol kesehatan shaf salat berjamaah di mesjid harus diberi jarak antara satu jamaah dengan jamaah yang lain minimal 1 meter.

Harus ada jarak tidak boleh rapat, padahal dahulu sebelum adanya wabah Covid-19 setiap salat berjamaah khususnya salat Jumat selalu diingatkan untuk merapatkan dan meluruskan Shaf demi kesempurnaan salat.

Akan tetapi saat ini, hal itu mutlak diperlukan demi menghindari keburukan yang lebih fatal yaitu penularan covid-19.

Oleh karenanya, banyak asumsi-asumsi yang berkeliaran di alam pikir setiap insan, apakah Covid-19 ini adalah pertanda akhir zaman yang secara tidak langsung telah menjadikan ibadah tersebut tidak sempurna dengan sendirinya atas izin dan restu yang maha kuasa, ataukah wabah Covid-19 ini hanya sebagai sarana untuk introspeksi diri, ataupun sebagai wahana untuk bermuhasabah atas dosa dan khilaf umat manusia selama ini.

Apapun alasannya, hal tersebut tergantung dari bagaimana cara menyikapinya.

Ini karena segala peristiwa dan kejadian yang terjadi tentu saja atas kehendak dan kepengetahuannya, yang mana cara terbaik dari kita untuk menyikapi kehendak Tuhan tersebut, khususnya di bulan Ramadan.

Ini adalah dengan membiasakan diri untuk menjalani Ramadan dengan cara yang berbeda shalat
tarawih dengan memakai masker dan shaf yang berjarak, tidak berkerumun untuk membeli pakaian baru maupun kebutuhan lainnya dan khususnya untuk tidak mudik kekampung halaman masing-masing.

Susah, iya. Berat, memang.

Namun demi kemasalahatan bersama hal ini mau tidak mau harus dilakukan, ibarat kita harus terbiasa menikmati kopi tanpa gula, menyantap sayur asem tanpa sambel terasi atau menikmati pisang goreng tanpa di temani teh manis.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved