Breaking News:

Pemprov Jateng Beri Fasilitas Bus ke Pekerja Migran yang Pulang Lewat Bandara Juanda Surabaya

Pemprov Jateng menjalin komunikasi intens dengan Pemprov Jatim dan Pemprov Banten terkait kepulangan ribuan pekerja migran ke kampung halaman.

Pemprov Jateng
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. 

SURYAMALANG.COM - Pemprov Jateng menjalin komunikasi intens dengan Pemprov Jatim dan Pemprov Banten terkait kepulangan ribuan pekerja migran ke kampung halaman.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, juga menambahkan untuk berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan BP2MI, terutama terkait penatalaksanaan kesehatan Covid-19 bagi mereka yang pulang.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah Sakina Roselasari menyebutkan, pekerja migran asal Jateng itu pulang setelah menyelesaikan kontrak kerja di berbagai negara, seperti Hongkong, Malaysia, dan Arab.

"Pekerja migran asal Jateng kembali (dari luar negeri) mendarat dari dua bandara Soekarno-Hatta di Banten dan Juanda di Surabaya. Di kedua bandara itu, mereka telah melewati mekanisme pemeriksaan swab dan karantina sampai ada hasil negatifnya," tutur Sakina, seusai mengikuti rapat penanggulangan Covid-19, di Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Menurut data yang dikantonginya, hingga 15 Mei 2021 pekerja migran yang turun di Bandara Juanda mencapai 474 orang.

Sementara, di bandara Soekarno Hatta mencapai 1.241 orang.

Mereka kebanyakan berasal dari Kabupaten Pati, Jepara, Kendal, Cilacap, Brebes, dan Banyumas.

"Kami jalin komunikasi dengan Jatim baik itu dinas tenaga kerja,  kesehatan kemudian BP2MI (Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia) kami juga berkomunikasi. Di Juanda kemarin tidak bisa pulang mandiri, Pemprov Jateng memfasilitasi dua bus kemarin sebelum lebaran," tutur dia.

Ia menyebutkan, kepulangan para pekerja migran dilakukan secara bergelombang.

Bahkan di antaranya ada yang pulang menggunakan fasilitas pribadi ke kampung halaman.

Namun demikian, prosedur protokol keamanan tetap harus dilalui.

"Kalau perkiraannya yang akan pulang kurang lebih sekitar 4000 orang, baik di bulan April atau Mei ini karena kontraknya habis. Namun, kenyataannya yang pulang tidak sebanyak itu hanya sekitar 1000 orang, karena adapula yang memperpanjang kontrak mereka," imbuh Sakina.

Terkait masa depan mereka sesudah pulang kampung, Sakina berpesan mereka menjadi pengusaha.

Namun demikian, bagi eks pekerja migran, yang bingung mencari pekerjaan, diharapkan menghubungi Disnaker setempat.

"Pekerja yang kontraknya habis, belum tentu bisa kembali ke luar negeri. Entah karena moratorium atau kondisi negara penerima kerja. Kami berharap mereka bisa menjadi wiraswasta. Kalau pelatihan, ada Kartu Prakerja yang bisa mengembangkan kemampuan.  Di web kami juga ada e-Makaryo, yang mempertemukan calon pekerja dan perusahaan," urai Sakina.

Editor: isy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved