Breaking News:

Berita Lamongan Hari Ini

Di Kecamatan Babat Lamongan Ada Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda, Dibangun di Era Perang Dunia

Di Kecamatan Babat Lamongan Ada Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda, Dibangun di Era Perang Dunia

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Eko Darmoko
suryamalang.com/hanif manshuri
Anggota Koramil Babat sedang membersihkan semak belukar yang tumbuh mengepung bangunan bersejarah peninggalan Belanda di Lamongan, Sabtu (29/5/2021). 

SURYAMALANG.COM, LAMONGAN - Peninggalan sejarah berupa bangunan peninggalan kolonial Belanda di Kecamatan Babat yang tak pernah terurus dan terbengkalai, kini dirawat Kodim 0812 Lamongan.

Salah satu di antaranya yang dijamah adalah Gedung Corps Tjadangan Nasional (CTN) dibersihkan anggota TNI.

"Kita akan intens untuk melakukan perawatan peninggalan Belanda yang bersejarah ini, " kata Danramil Babat, Kapten M Khoiri, Sabtu (29/5/2021).

Khoiri bersama anggota koramil gotong-royong menggelar karyabakti membersihkan sampah, tumbuhan gulma serta semak belukar yang mengotori dan tumbuh mengepung tempat bersejarah peninggalan Belanda tersebut.

Khoiri mengungkapkan, seharusnya peninggalan Belanda ini menjadi salah satu cagar budaya untuk Kecamatan Babat.

"Kita harus merawatnya, karena ini peninggalan bersejarah,” katanya.

Gedung peninggalan Belanda yang dibangun pada 1935 ini banyak  ditumbuhi semak belukar, lantaran bertahun-tahun terbengkelai tidak dirawat.

Menurut Khoiri, bangunan peninggalan Belanda di Kecamatan Babat yang bernilai sejarah tidak hanya gedung CTN saja, akan tetapi ada beberapa gedung peninggalan Belanda lainnya

Di antaranya Mariniers Brigade atau rumah sakit untuk marinir yang sekarang jadi Mapolsek Babat, gedung Koramil Babat, Stasiun Babat, jembatan, dan rumah panggung milik PT KAI.

Semua bangunan karya Belanda itu dibangun di era agresi militer Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan pada tahun 1950.

Masyarakat Babat berharap agar bangunan peninggalan Belanda ini tetap terpelihara.

"Ada nilai sejarah yang cukup kuat makna dan historisnya, " katanya.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan, harus berperan aktif untuk menghidupkan bangunan bersejarah.

Bahkan kalau mungkin bisa jadi destinasi baru yang mendukung wisata di Lamongan lainnya.

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved