Wawancara Eksklusif

Wawancara Eksklusif Wagub Jatim Emil Dardak (2/2), Jangan Jadi Sumbu Pendek dan Termakan Hoaks

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengajak masyarakat untuk bersabar. Ini adalah salah satu kunci dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Editor: isy
habibur rohman/suryamalang.com
Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak disambut Wakil Pemimpin Redaksi Harian Surya Triu Mulyono saat berkunjung di Kantor Harian Surya Jl Rungkut Industri III nomor 68 & 70 Surabaya, Rabu (9/6/2021). Emil Dardak (panggilan akrabnya) dalam kesempatan ini selain membahas perkembangan dan peran media terhadap beberapa kebijakan oleh pemerintah serta ekonomi, juga membahas tentang perkembangan industri yang saat ini berkembang di masyarakat terutama yang banyak diminati oleh generasi muda. 

Artinya terlalu ngoyo mikirin masa depan, sampai akhirnya terlalu mikirin itu, bisa jadi berisiko. Kadang saya bilang, kita selalu nata, nanti berikutnya gimana caranya. Kita lupa umur saja besok belum tentu masih hidup. Mending kita maksimalkan amanah yang kita punya hari ini.

SURYA: Kalau ada skala 1-10, enaknya jadi wagub apa, di tengah tantangannya yang luar biasa ini?
Emil Dardak: Tergantung perspektif. Saya gak ngerasa hebat-hebat amat, bahwa mungkin alhamdulillah dalam keadaan yang selamat itu karena kebutuhan juga gak tinggi. Ya happy-happy aja kok. Jadi, kalau ngomong enak gak enaknya sih ya kita tentu masih ngerasa baiklah, kita syukuri bahwa apa yang dianugerahkan oleh Allah Swt sudah memberikan sesuatu yang baik.

SURYA: Banyak yang menyebut Mas Emil sosok sempurna. Muda, pinter, ganteng, pintar nyanyi dan punya istri cantik dan artis. Kira-kira apa yang kurang di hidup Mas Emil, sehingga butuh terus diperjuangkan?
Emil Dardak: Percaya, setiap orang pasti ngerasa kurang. Ada misalnya, orang sudah hebat tapi belum merasa dia number one. Jadi, di dunia ini akan selalu ada yang kurang. Jadi, di situlah triknya. Termasuk saya selalu mengatakan, Mas Emil masih muda.

Tapi itu bahaya jika saya terus menanamkan di diri saya terus muda. Karena saya akan semakin tua. Kalau kelebihannya karena muda, itu gak jadi sebuah (kelebihan). Usia tidak lagi jadi faktor, dan saya lebih setuju memang usia tidak menjadi faktor. Tua pun kalau masih progresif tentu oke. Gak ada kata terlalu muda, tapi gak ada juga terlalu tua.

Siapapun yang masih punya relevansi terhadap perkembangan zaman, dia boleh dapat kesempatan.

SURYA: Di banyak survei, Anda levelnya dianggap sudah waktunya ke Jakarta artinya ke level nasional. Kalau ada pertanyaan, di 2024, Anda diminta ikut kontestasi jawaban Anda bagaimana?
Emil Dardak: Jalan menuju ke sana ke kontestasi nasional itu sangat terjal. Memang gak ada yang salah bahwa ada preseden, pernah ada Wakil Gubernur maju di kontestasi nasional di Pemilu 2019. Tapi jalannya sangat terjal.

Artinya, terlalu merancang itu, apalagi sampai fokus, adalah sesuatu yang mengalihkan kita dari apa yang seharusnya menjadi tugas utama kita hari ini.

Banyak orang-orang hebat di negeri ini, hari ini, yang mungkin juga pantas berada di sana. Jadi, menurut saya berpikir ke situ adalah sesuatu yang sangat sulit bagi saya. Susah dirancang, bagi sebagian orang mungkin bisa dirancang tapi bagi saya itu sesuatu yang tidak jadi prioritas.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved