Breaking News:

Berita Batu Hari Ini

Komnas PA Temukan Fakta Baru Terkait Dugaan Kejahatan Seksual di Selamat Pagi Indonesia (SPI)

Komnas PA menemukan fakta baru terkait dugaan kejahatan seksual di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI), Kota Batu.

Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Kukuh Kurniawan
Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait bersama korban dugaan kejahatan seksual di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI), Kota Batu. 

Reporter : Kukuh Kurniawan

SURYAMALANG.COM, MALANG - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menemukan fakta baru terkait dugaan kejahatan seksual di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI), Kota Batu.

"Info dari Kabidrenakta Polda Jatim, terduga pelaku berinisial JE dipanggil untuk dimintai keterangan pada Selasa (22/6/2021), kata Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas PA kepada SURYAMALANG.COM, Sabtu (19/6/2021).

Komnas PA mendapat informasi bahwa ada tindak pidana kekerasan fisik yang dilakukan seorang pengelola SMA SPI.

Dari lima pengelola SMA SPI, satu orang melakukan tindakan kekerasan fisik dengan cara menampar dan menendang satu peserta didik.

"Lima pengelola tersebut mengetahui kejahatan seksual dan eksploitasi yang terjadi. Namun, mereka tidak melakukan tindakan apa-apa."

"Jadi, lima pengelola itu melakukan pembiaran dan ikut serta dalam peristiwa tersebut. Kami juga telah melaporkan lima pengelola itu ke penyidik Renakta Polda Jatim," bebernya 

Komnas PA mendapat informasi bahwa terduga pelaku JE kerap melakukan kejahatan seksual kepada anak didik di rumahnya di Surabaya.

"Anak-anak diajak untuk alasan training. Mereka dipanggil satu per satu setiap hari. Di situlah praktik kejahatan seksual terjadi, baik di rumah pribadi JE dan di ruang privasinya."

"Kami sudah sampaikan tambahan informasi itu ke penyidik, dan Polda harus menyelidiki TKP baru ini," ungkapnya.

Seorang korban mengatakan pelaku sering mengatakan "kamu ingin punya rumah impian yang punya rumah mewah dan besar seperti Koko".

"Jadi, kami ditraining untuk membangun impian. Kami dibawa ke Surabaya sampai lima hari. Mayoritas cewek yang dibawa ke sana. Cowok hanya satu atau dua orang," kata korban.

Korban berharap terduga pelaku JE segera ditangkap dan segera diadili secara hukum.

"ini bukan kepentingan kami pribadi, tapi kami memperhatikan nasib adik-adik kami yang ada di dalam sekolah. Karena kalau tidak segera dihentikan, nanti akan banyak korban lagi," tandasnya.

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved