Inspirasi Usaha

Menengok Kampung Nila Slilir Sukun Malang, Penjualan Lewat Online dan Menyasar End User

Kampung Nila Slilir di Jalan Pelabuhan Tanjung Priok Malang dikenal sebagai kampung yang mengembangkan ikan nila merah dengan sistem bioflok

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: isy
sylvianita widyawati/suryamalang.com
Pemberian ikan nila merah di Kampung Nila Slilir di Kelurahan Bakalankrajan, Sukun, Kota Malang, Selasa (22/6/2021). 

Berita Malang Hari Ini
Reporter: Sylvianita Widyawati
Editor: Irwan Sy (ISY)

SURYAMALANG.COM | MALANG - Kampung Nila Slilir di Jalan Pelabuhan Tanjung Priok, Kelurahan Bakalankrajan, Sukun, Kota Malang, dikenal sebagai kampung yang mengembangkan ikan nila merah dengan sistem bioflok yang hemat air.

Ini cocok untuk diterapkan di kota karena air tidak melimpah.

Awal kiprah budidaya ikan saat mulai pandemi Covid-19 di dunia, pada Februari 2020.

Bioflok adalah teknologi budidaya ikan melalui rekayasa lingkungan yang mengandalkan pasokan oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme yang secara langsung bisa meningkatkan nilai kecernaan pakan.

"Awalnya dari kegiatan karang taruna. Pada 2019 kita sering bikin kegiatan. Begitu pandemi, 2020, kegiatan berhenti. Akhirnya muda mudi RW 3 membuat kegiatan budi daya ikan nila merah yang tak mengundang massa," jelas Agung Sugiantoro, ketua kelompok budidaya ikan pada suryamalang.com, Selasa (22/6/2021). 

Dijelaskan, di lokasi saat ini dulu awalnya ada lima petak kolam ikan terbengkalai.

Kelima petak beton dibersihkan dan dimanfaatkan.

Akhirnya ada bantuan bibit ikan nila merah dari Lurah yang memiliki link di PBI Tlogowaru.

"Ada bantuan ikan nila merah 500 ekor waktu itu. Ditebar di satu kolam dan dua bulan bertahan. Ini dinilai sebagai keberhasilan. Pak Lurah memberi lagi 1000 ekor di kolam lainnya agar terisi," katanya.

Namun untuk diaplikasikan di warga, agar berat jika memakai kolam beton.

Akhirnya diaplikasikan lewat kolam terpal.

Belajar budi daya ikan dengan sistem ini akhirnya menemukan SOP-nya yang pas saat berjalan.

Di lokasi, ada beberapa kolam terpal dengan diameter tak sama.

"Dengan sistem bioflok, tebar ikannya bisa banyak," kata dia.

Lahan sempit tapi ikannya bisa banyak, hemat air. 

Sejak tebar sampai panen ikan nila, airnya terus dipakai.

Kadang diputar ke kolam lainnya dan tak berbau.

"Ini ramah lingkungan," jawabnya.

Saat ini jumlah kolam ada 58 dari 37 petani.

Kolam berdiameter dua meter, bisa ditebar 350 ekor ikan nila.

Diameter tiga meter, bisa ditebar 700 sampai 900 ekor.

Sedang kolam diameter empat meter, bisa menebar 1000 sampai 1200 ekor. 

Untuk ikan nila ukuran 100 gram, maka bisa dipanen pada empat sampai lima bulan panen.

Kini sedang disimulasikan untuk ikan nila ukuran agak besar agar 1 kg bisa berisi dua ekor serta berhitung biaya produksinya.

"Kolam ini nanti akan dipanen pada akhir Agustus 2021," tunjuknya pada kolam yang berisi ikan nila ukuran agak besar.

Dijelaskan, pemasaran ikan nila merah lewat online seperti IG dan FB menyasar end user.

"Kami menghindari tengkulak," tegasnya.

Maka ada tim pemasaran sendiri.

Kolam ikan pada bagian atas dilengkapi penutup jaring menghindari ikan meloncat dari kolam.

"Kampung nila juga bisa untuk wisata edukasi. Makanya diberi ikan nila merah agar menarik. Saat panen banyak juga yang datang langsung membeli," terang Agung.

Soal harga ikan nila merah relatif bagus jika tidak sedang bersamaan panen dengan di bendungan Kabupaten Malang.

Ikan nila merah memiliki kelebihan pada rasa yang gurih dan manis dibanding ikan nila hitam.

"Oh ya, dalam kolam juga kadang ada ikan nila hitam karena tercampur di bibit ikan. Dari sisi pertumbuhan, ikan nila hitam lebih cepat pertumbuhannya dibanding merah," paparnya.

Selain menjual produk, di sini juga melayani paket penjualan.

Maka petani tinggal memberi makan dan pihaknya memberi pendampingan sampai satu kali panen.

Paket terendah dengan kolam diameter dua meter dengan harga Rp 2,4 juta.

Yang sudah dilayani lewat paket ini cukup banyak dan di luar Kota Malang.

Harga jual ikan nila merah untuk umum Rp 32.000 per kg.

Tuy Juniarto, tim teknis yang menangani sistem bioflok di Kampung Nila Slilir menjelaskan, sistem ini adalah mengolah media airnya.

"Sebelum belajar ikannya, maka harus belajar ke airnya dulu," kata Tuy.

Karena air yang dipakai sejak tebar benih sampai panen itu saja, maka ada asumsi ikan makan kotorannya, ia menjawab tidak.

"Ikan bisa membedakan kok kotoran dan makanan," kata dia.

Ikan nila diberi pakan pelet produksi pabrikan.

Ke depan, air kolam juga akan diserapkan ke sayuran dengan sistem aquaponik.

Saat ini, ibu PKK sudah memanfaatkan tapi belum masif.

Bagi dia, budidaya ikan di kota lebih cocok dengan sistem bioflok karena hemat air.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved