Curhatan Pelaku Usaha Warkop: 'Mati Karena Covid-19 Atau Karena Kelaparan'

Para pelaku usaha warkop mengeluhkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang membuat mereka terjepit antara mati karena covid-19 atau karena kelaparan.

Editor: eben haezer
david yohanes/suryamalang.com
Petugas gabungan Tulungagung merazia warung kopi, di awal pandemi corona. 

SURYAMALANG, SURABAYA - Ketua Paguyuban Warkop Surabaya Husin Ghozali, mengungkapkan kondisi terkini usaha warung kopi, ditengah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Pemilik Warkop Pitulikur ini juga menuturkan, pada hari pertama PPKM darurat, usahanya tidak maksimal karena harus melayani take away, dan tidak diperbolehkan makan ditempat.

"Warkop tidak bisa melakukan kegiatannya. Mau siasat apapun yang dilakukan, baik pesan secara online di tetap tidak maksimal," ujarnya, Selasa (13/7/2021)

Pria yang akrab dipanggil Cak Conk ini menambahkan, sumber pendapatan warkop berasal dari pengunjung yang ingin menikmati koneksi internet sambil ngopi. 

"Hari pertama tidak ada yang datang. Maka besoknya, kami memutuskan tutup. Selain itu, kasihan yang titip gorengan dan titip jajan jadi tidak laku," keluhnya. 

"Ada dari teman teman kami yang memaksa buat buka, dengan berbagai siasat. Tapi mau pakai model apapun tetap tidak laku dan mengeluh. Malah pengeluaran banyak. Listrik karyawan, kami terpaksa tutup merumahkan karyawannya. Pasti mikir kedepannya mana bisa bertahan kalau begini terus," sambungnya.

Jika tetap membuka usaha warkopnya, Husin Ghozali khawatir petugas berwajib yang rutin menggelar razia akan menindak. 

Dirinya berharap, pemerintah sebaiknya tidak memperpanjang PPKM. Menurutnya, masyarakat dihadapkan dua pilihan, antara mati karena Covid 19 atau kelaparan. 

"Sangat disayangkan. Negara harus ada dimanapun dan apapun kondisi rakyatnya. Negara harus membantu memberikan solusi," tandasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved