Berita Arema Hari Ini
Pemanasan 30 Menit, Main Cuma 1 Menit, Kisah Kocak & Bersejarah Singgih Pitono di Arema era Galatama
Pemanasan 30 Menit, Main Cuma 1 Menit, Kisah Kocak & Bersejarah Singgih Pitono di Arema era Galatama
SURYAMALANG.COM, MALANG - Mantan striker Arema yang kini jadi asisten pelatih Arema FC, Singgih Pitono, menceritakan kisah kocak saat ia masih menjadi pemain.
Kisah kocak sekaligus momen bersejarah ini dialami Singgih Pitono saat membela Singo Edan di era kompetisi Galatama.
Kisah ini adalah pengalaman tak terlupakan ketika ia menjadi penghangat bangku cadangan Singo Edan.
Yakni ketika sudah pemanasan lama di pinggir lapangan, namun hanya diberi waktu bermain sangat singkat.
"Di saat jadi cadangan, saya pernah pemanasan 30 menit, tapi ketika pertandingan kurang satu menit saya baru dimainkan."
"Tapi tidak masalah, dari situ saya terus berjuang. Itu jadi sejarah yang tidak bisa saya lupakan," kata Singgih Pitono kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (5/8/2021).
Bagi pemain asal Tulungagung itu, prestasi yang ia raih saat itu dan kini, merupakan hasil kerja keras dan tekatnya untuk tidak putus asa meski berada di bangku cadangan bertahun-tahun.
"Ini semua berkat kemauan dan tekat."
"Jadi pemain depan itu harus punya tekat biar bisa jadi top skor, dan bagaimana harus bisa dipanggil Timnas."
"Alhamdulillah dua duanya sudah saya rasakan," ujar Singgih.
Singgih Pitono juga membagi kisah perjuangannya meraih top skor dua musim berturut-turut saat membela Arema di era Galatama.
Menurut Singgih, sebelum menjadi top skor Galatama 1991-1992 (21 gol) dan Galatama 1992-1993 (16 gol), ia pernah menjadi penghangat bangku cadangan selama dua tahun.
"Saat gabung Arema FC, saya jadi pemain yang paling muda, kelas 3 SMA kayaknya."
"Itu tidak mudah, penuh perjuangan dan hampir putus asa, karena di Arema saat itu banyak pemain level nasional. Saya masih adaptasi."
"Tidak mudah adaptasi dengan karakter main Arema yang keras dan cepat. Butuh proses dua tahun untuk itu."
"Sehingga selama dua tahun itu saya berada di bangku cadangan terus, sebelum akhirnya bisa jadi top skor selama dua kali berturut turut," kata Singgih Pitono.

Arema Juara Galatama Setelah Menekuk Mitra Surabaya di Stadion Gajayana
Tanggal 29 Juli pada 28 tahun silam, Arema menjuarai kompetisi Galatama edisi 1992/1993.
Klub beralias Singo Edan ini memastikan gelar juara Galatama setelah mengalahkan Mitra Surabaya di Stadion Gajayana, Kota Malang, 29 Juli 1993.
Kini sudah 28 tahun berlalu, Arema tetap mencoba menjaga semangatnya hingga saat ini.
Salah satu upaya itu adalah dengan menempatkan legenda hidupnya di jajaran tim pelatih, yakni duo asisten Kuncoro dan Singgih Pitono hingga saat ini.
Selain dari sisi teknis, keduanya juga mendapatkan tugas bagaimana membangun karakter Arema FC secara estafet dari masa ke masa.
"Kalau dari sisi teknis perkembangan sepak bola memiliki banyak perubahan."
"Tapi satu hal yang harus diingat, karakter dan semangat itu harus selalu ada, yakni karakter Arema," ungkap Singgih Pitono dikutip SURYAMALANG.COM dari aremafc.com.
Singgih Pitono kala itu menorehkan catatan gemilang.
Dua tahun berturut-turut di era Galatama mendapatkan sepatu emas sebagai pencetak gol terbanyak alias top skor.
Maka tidak heran jika rekornya itu banyak memberikan motivasi bagi pemain-pemain Arema FC.
"Dulu mungkin berbeda dengan sekarang."
"Ada hal-hal yang butuh diadaptasikan, tapi bagaimanapun itu kalau kita sudah membela Arema, kemampuan terbaik harus kita berikan," ujarnya.
Tak hanya dari sisi tim pelatih, Ovan Tobing yang merupakan mantan manajer Arema di era Galatama juga kerap memberikan motivasi kepada tim.
Baik saat bertanding maupun saat latihan, guratan wajahnya yang menyiratkan sejarah besar Arema masih terasa, bahkan suara lantangnya masih kerap membuat hati bergetar bagi siapa saja yang mendengarkan.
"Ada hal yang sama yang selalu saya rasakan ketika bicara tentang Arema, baik saat ini ataupun ketika pertama kali saya datang."
"Yakni adalah semangat yang harus selalu dijaga bersama-sama, semangat adalah pondasi dari karakter tim," katanya.
Berita terkait Arema dan Singgih Pitono