Breaking News:

Berita Ponorogo Hari Ini

Belum Ada Sepekan Jalan, Pembelajaran Tatap Muka di Ponorogo Ditutup Kembali Setelah Masuk Level 4

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Ponorogo segera dihentikan menyusul diterapkannya kembali PPKM Level 4 di Bumi Reog. 

Editor: isy
SURYAMALANG.COM/Sofyan Candra
Ilustrasi - Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko meninjau pembelajaran tatap muka (PTM) di SMP 1 Maarif, Senin (5/4/2021). 

Berita Ponorogo Hari Ini
Reporter: Sofyan Arif Candra

SURYAMALANG.COM, PONOROGO - Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Ponorogo segera dihentikan menyusul diterapkannya kembali PPKM Level 4 di Bumi Reog. 

Sebelumnya, PTM di semua tingkatan satuan tingkatan dibuka dengan kuota 50 persen usai selama dua pekan Ponorogo masuk level 3.

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Ponorogo sendiri baru saja dimulai sepekan terakhir.

Bahkan siswa di beberapa satuan pendidikan, baru masuk PTM Senin (23/8/2021) kemarin.

Sedangkan sesuai Intruksi Mendagri nomor 35 tahun 2021 dijelaskan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di satuan pendidikan dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh pada daerah dengan PPKM level 4.

"Saya rasa kita menyesuaikan ketentuan yang ada. Kalau diberlakukan (PPKM) level 4 teknisnya disesuaikan," kata Sekda Ponorogo, Agus Pramono, Rabu (25/8/2021) 

Satgas Penanganan Covid-19 Ponorogo, mulai dari Kapolres, Dandim, hingga Agus sendiri sudah menentukan untuk melakukan pembatasan kegiatan dan mobilitas masyarakat.

Khususnya di Jalan HOS Cokroaminoto agar kejadian kerumunan pada hari Sabtu lalu tidak terulang kembali.

Pembatasan kegiatan yang akan dilakukan disesuaikan dengan aturan pada PPKM Level 4 yang bertujuan untuk menurunkan angka penularan Covid-19.

"Sudah dirapatkan dengan Dandim, Kapolres, dan Dinkes bagaimana agar bisa kembali turun ke level 3, salah satunya untuk memaksimalkan Isoter, dan mengantisipasi kepulangan PMI (Pekerja Migran Indonesia)," lanjutnya.

Satgas sendiri juga akan meningkatkan tracking dan tracing serta tracing untuk menekan angka penularan Covid-19.

"Kematian kasus kita tinggi dan yang kedua tracing dan testing kita masih rendah sehingga harus ditingkatkan," lanjutnya.

Tracing dan testing ini akan dimaksimalkan oleh Tenaga Kesehatan (Nakes) di Puskemas, Bhabinkamtibmas serta Babinsa di masing-masing desa dan kecamatan.

"Kalau cuma puskesmas yang ada di wilayah itu yang bergerak akan sulit karena menyadarkan masyarakat tidak gampang," pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved