Sosok

Potret Aditya Saiful Anam, Anak Pemulung Asal Kepanjen Malang yang Viral Seusai Sabet Juara Karate

Aditya Saiful Anam viral setelah latar belakang hidupnya sebagai anak pemulung namun memiliki prestasi sabet juara harapan karate se-Malang Raya

Penulis: Mohammad Erwin | Editor: isy
erwin wicaksono/suryamalang.com
Potret Aditya Saiful Anam. Remaja 12 tahun asal Desa Jenggolo, Kepanjen, Kabupaten Malang, ini tengah viral setelah latar belakang hidupnya sebagai anak pemulung namun memiliki prestasi sabet juara harapan karate se-Malang Raya. 

Sulastri mengatakan anak satu-satunya tersebut memang berhasrat menggeluti olahraga karate sejak sekolah Taman Kanak-kanak.

"Ipul suka karate sejak TK. Memang giat ada kemauan tinggi. Ingin membanggakan orang tuanya," beber wanita yang akrab disapa Sum itu.

Sebagai seorang ibu, Sum ingin mewujudkan keinginan anaknya tercapai.

"Tapi saya bilang ke Ipul saya hanya bisa segini. Kayak kemarin ibu hanya bisa ngantar pakai sepeda pancal begitu. Tapi dia senang dan penurut anaknya dan gak neko-neko," sebut Sum.

Sum bercerita saat Ipul masih berumur 5 tahun, anaknya tersebut berhasrat menjadi polisi.

"Saya tanya 'pak ya apa caranya jadi polisi?' pak polisinya jawab 'harus pintar bela diri' sejak saat itu saya bilang ke ibu ingin karate dan didukung," ujarnya.

Sulastri bersyukur memiliki anak seperti Ipul.

Ia menilai Ipul adalah sosok yang tidak rewel. Kemana-mana, Ipul kompak bersepeda bersama ibunya.

"Di suka lihat stasiun kota baru yang barusan dibangun itu. Ia suka melihat gedung-gedung itu. Pernah sepedahan ke Singosari sama ke Gunung Kawi. Saya bersyukur punya Ipul," terang wanita berkerudung ini.

Ia pun bercerita jika keseharian Ipul tidak hanya sekolah dan latihan karate.

Ipul juga membantu Sum untuk mencari rongsokan-rongsokan untuk dijual kembali guna mencukupi kebutuhan hidup.

"Ya saya kan kerjanya mengumpulkan rongsokan. Biasanya Ipul itu ikut kayak kemarin pas kejuaraan pulangnya ya saya nyari di gang-gang Kota sampai Kabupaten sama Ipul. Dia pun gak masalah. Dia berbakti sama orang tuanya," ungkap Sulastri.

Sulastri kadang suka menunggak uang iuran karate anaknya karena keterbatasan biaya.

"Biaya karate Rp 60 ribu per bulan. Pernah nunggak, waktu ujian karate baru jual rongsokan," kenang Sulastri.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved