Berita Malang Hari Ini
Yoga, Karyawan Pabrik Rokok yang Pernah Bawa Nama Indonesia ke Kancah Internasional
Yoga Dirgantara (31) adalah seorang karyawan di pabrik rokok PT Merapi Agung Lestari (MAL) Malang.
Penulis: Benni Indo | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, BATU – Yoga Dirgantara (31) adalah seorang karyawan di pabrik rokok PT Merapi Agung Lestari (MAL) Malang.
Warga Kota Malang ini merupakan seorang Tuli yang telah bekerja di PT Merapi Agung Lestari Malang sejak 2009. Lalu menjadi karyawan tetap mulai 2011.
Setiap harinya, Yoga bekerja di bagian sebagai pres ball, yakni bagian bagian memasukan rokok ke bungkusnya.
Dalam pengakuannya, ia mendapatkan kesempatan bekerja karena tempat sekolahnya bekerjasama dengan perusahaan.
Saat ditemui SURYAMALANG.COM, Yoga sedang berkumpul dengan teman-temannya di komunitas Akar Tuli.
Berkomunikasi dengan orang Tuli memang berbeda, namun tidaklah sulit. Jika tidak bisa menggunakan bahasa isyarat, mereka bisa memahami gerak bibir. Cara lain adalah dengan menggunakan tulisan.
Dalam pertemuan itu, Yoga menceritakan kisah mulanya ia bisa bekerja.
Ia menjalani masa pendidikan di SMA LB di Kota Malang. Setelah lulus, ibunya sempat menawari untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Namun karena saat itu belum ada akses bagi tuli untuk kuliah, Yoga tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
Yoga lebih memilih terjun ke dunia kerja. Melalui lembaga pendidikan tempat ia mengemban ilmu dulu, akhirnya ia masuk ke PT Merapi Agung Lestari Malang.
Yoga bukan sembarang buruh, ia pernah membawa nama Indonesia di ajang internasional, yakni ketika terpilih menjadi Mr Deaf Indonesia 2014.
Atas pencapaiannya itu, ia terbang ke London, Inggris untuk mengikuti ajang Miss & Mister Deaf World.
Ia juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahasa isyarat serta keberadaan Tuli.
Di tempat kerjanya, ia juga bergaul dengan dengan teman-temannya yang bukan Tuli. Dengan pergaulan itulah, perlahan teman-temannya bisa mengetahui bahasa isyarat.
Menurut Yoga, bahasa ataupun komunikasi sangat penting bagi Tuli.
Saat ditemui, Yoga bercerita banyak tentang pengalamannya bekerja di perusahaan rokok. Ia menegaskan bahwa Tuli bisa bekerja di sebuah perusahaan asalkan ada aturan yang jelas.
“Aturan itu penting agar Tuli bisa bekerja sesuai jadwal. Tuli kadang juga ada yang malas, jadi agar tidak malas-malasan, harus dibuat aturan agar fokus bekerja,” ujarnya.
Baginya, tidak perlu fasilitas khusus untuk menerima Tuli di sebuah tempat kerja.
Hal terpenting bagi Tuli adalah akses komunikasi. Perlu ada orang-orang yang memahami bahasa isyarat, meskipun tidak sepenuhnya menguasai.
“Tuli juga bisa berkomunikasi dengan melihat gerak bibir. Tapi saat pandemi ini sulit karena orang-orang pakai masker,” katanya.
Yoga mengatakan, ada 24 Tuli yang bekerja di PT Merapi Agung Lestari Malang. Mereka memiliki komunitas tersendiri meskipun bekerja di bidang yang berbeda.
Mereka juga menciptakan istilah tersendiri terkait pekerjaan yang mereka lakukan. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi salah paham antar satu Tuli dengan yang lainnya.
“Misal membuat isyarat yang membedakan antara libur dengan lembur. Kami membuat isyarat tersendiri agar tidak salah paham. Isyarat lainnya juga ada, misal ada bahasa isyarat untuk proses memasukan rokok ke dalam kotak,” ujarnya.
Di luar tempat mereka bekerja, bahasa isyarat itu tidak berlaku lagi. Bahasa isyarat yang mereka ciptakan hanya berlaku di tempat kerja saja.
Melalui bahasa isyarat itulah para Tuli yang bekerja di PT MAL bisa lebih efektif dan produktif. Tidak terjadi kesalahpahaman, justru sebaliknya, bisa saling memahami.
Jonatan H, Bagian Human Resource Development (HRD) PT MAL menjelaskan, ada 24 Tuli yang bekerja di perusahaan. Dari jumlah itu, 21 orang berstatus karyawan tetap, sedangkan tiga orang lainnya masih kontrak.
“Tiga orang ini pekerja baru, tapi tentu saja arahnya nanti bisa menjadi karyawan kontrak,” terangnya.
Menurut Jonatan, para Tuli bisa bekerja dengan baik. Jika tidak bekerja baik, tidak mungkin diangkat sebagai karyawan tetap. Para Tuli juga dikatakannya mendapatkan hak yang sama, mulai dari upah hingga hak cuti.
“Kami memiliki pandangan kalau mereka memiliki hak yang sama sebagai manusia. Kami membuka diri bagi mereka, istilahnya memberikan pekerjaan bagi mereka. Memang ada tantangan di komunikasi, tapi selain itu bisa dikerjakan,” terangnya.
24 orang itu bekerja di dua divisi. 11 orang di divisi pengolahan dan 13 lainnya di divisi produksi. Kehadiran para Tuli di PT MAL berawal dari kunjungan pemerintah setempat dan lembaga SLB. Dari kunjungan itu, PT MAL membuka kesempatan bagi para lulusan SLB agar bisa bekerja.
“Sejauh ini hanya Tuli, belum ada difabel lainnya. Memang kebutuhannya saat ini untuk Tuli,” katanya.
Pun soal jenjang karir. Kata Jonatan, kesempatan tetap ada bagi para Tuli, namun perlu upaya keras karena persaingannya tidak mudah.
“Selama ini, yang namanya jenjang karir tetap terbuka. Akan tetapi, dengan adanya perbedaan, akhirnya persaingan dengan yang lain berat. Terus terang, pada level pimpinan harus memiliki hal lebih. Pada prinsipnya kami membuka peluang yang sama sejauh mereka mampu,” kata Jonatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/yoga-dirgantara-31-seorang-karyawan-di-pabrik-rokok-pt-merapi-agung-lestari-mal-malang.jpg)