Breaking News:

Berita Trenggalek Hari Ini

Pengajar Ponpes di Trenggalek Diduga Lakukan Kejahatan Asusila kepada 34 Santriwati

Seorang pengajar di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Trenggalek diduga melakukan kejahatan asusila terhadap para santriwatinya.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: isy
aflahul abidin/suryamalang.com
SMT (34), Tersangka kasus kejahatan asusila terhadap 34 santriwati di sebuah ponpes di Trenggalek. 

Berita Trenggalek Hari Ini
Reporter: Aflahul Abidin
Editor: Irwan Sy (ISY)

SURYAMALANG.COM | TRENGGALEK - Seorang pengajar di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Trenggalek diduga melakukan kejahatan asusila terhadap para santriwatinya.

Pria berinsial SMT (34), warga Desa/Kecamatan Pule, Trenggalek itu melakukan kejahatan asusila kepada 34 santriwati di ponpes setingkat SMA tempat ia mengajar.

Dugaan kejahatan asusila itu sudah berlangsung selama 3 tahun terakhir atau mulai 2019.

Kini, SMT sudah ditangkap dan ditahan di Mapolres Trenggalek.

Kasatreskrim Polres Trenggalek, AKP Arief Rizki Wicaksana, menjelaskan tersangka mengajar di ponpes itu mulai tahun 2017.

Kasus ini terungkap setelah salah seorang korban bercerita kepada orangtuanya tentang kejahatan asusila yang dilakukan oleh sang guru ke kepadanya.

“Jadi cerita awalnya, tersangka ini diberhentikan [sebagai pengajar] dari pondok. Kemudian orangtua salah satu korban menanyakan kepada anaknya soal sang pengajar. Kemudian korban ini bercerita. Dari sini awal mula kasus terungkap,” kata Arief, saat jumpa pers, Jumat (24/9/2021).

Kasus tersebut akhirnya dilaporkan ke Mapolres Trenggalek pada 22 September 2021.

Petugas Satreskrim Polres Trenggalek langsung turun tangan menangkap tersangka di kediamannya pada hari yang sama.

“Kami tangkap di rumahnya. Dalam proses penangkapan berjalan lancar, tidak ada gangguan,” sambung Arief.

Tersangka dijerat dengan pasal 76e jo pasal 82 ayat (1), ayat (2), ayat (4) UU RI 17/2016 tentang penetapan Perppu 1/2016 tentang perubahan kedua atas UU RI 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

SMT diancam dengan hukuman penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 taun, serta denda paling banyak Rp 5 miliar.

“Dalam hal tindak pidana pencabulan dilakukan oleh pendidik/tenaga kependidikan dan menimbulkan korban lebih dari satu orang, pidana ditambah 1/3 dari ancaman,” tambah Kabagops Polres Trenggalek AKP Jimmy Hewryanto Hasiholans.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved