Breaking News:

Berita Malang Hari Ini

Prodi Agroekoteknologi UB Susun Kurikulum Mata Kuliah MBKM Yang Berstandar SKKNI

Prodi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya mengadakan Lokakarya Series 2

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
Kegiatan lokakarya dengan pemateri Nur Baladina SP MP, Sabtu (9/1/2021). 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Prodi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya mengadakan Lokakarya Series 2 tentang 'Penyusunan RPS Mata Kuliah dalam Program MBKM yang Selaras Peta Okupasi dalam KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) dan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia)' pada Sabtu (9/10/2021).

"Pembuatan kurikulum atau RPS perlu menyelaraskan dengan peta okupasi. Tujuannya agar dapat menghasilkan kompetensi mahasiswa yang dapat bekerja sesuai peta okupasi yang ada," jelas Nur Baladina, SP MP dalam rilis yang diterima suryamalang.com, Minggu (10/10/2021).

Kegiatan ini dalam rangkaian Program Kompetisi Kampus Merdeka PKKM Prodi Agroekoteknologi Tahun 2021.

Dikatakan, peta okupasi disusun dalam KKNI karena informasi terkait jenjang karir dalam industri tertentu dan personal branding untuk berwirausaha pada bidangnya sangat terbatas.

Maka sebaiknya, lanjutnya, program pelatihan dan kegiatan yang diadakan oleh fakultas sebaiknya sudah mengarah pada kompetensi yang ada dalam peta okupasi.

"Sedang manfaat peta okupasi dalam KKNI bagi mahasiswa yaitu terdapat informasi dan jenjang karir dalam berbagai bidang, lulusan pendidikan dan pelatihan akan lebih sesuai dengan kebutuhan industri, perilaku wirausaha dapat memiliki personal branding, meningkatkan daya saing tenaga kerja, memperluas kesempatan kerja dan memperpendek masa tunggu kerja," kata dia.

Dikatakan, manfaat peta okupasi bagi institusi adalah membantu mengembangkan kurikulum, memberikan acuan dalam pengembangan program pembelajaran.

Serta membantu dalam pengembangan profil lulusan, referensi dalam pengembangan berbagai modul serta desain instruksional berdasarkan kompetensi. Ininsebagai acuan pengembangan program pemagangan termasuk MBKM.

Diterangkan, dalam MBKM mahasiswa diharapkan mendapatkan pengalaman di lapang/di luar kelas lebih banyak. "Hal ini dapat mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa agar dapat mempelajari permasalahan real di lapang," jelasnya.

Yang tak kalah pentingnya adalah RPS/kurikulum yang telah dibuat perlu dievaluasisecara berkala untuk pengembangan RPS/kurikulum yang sesuai kebutuhan lulusan dan stakeholder.

"Penyusunan RPS/kurikulum harus memperhatikan kebutuhan stakeholder/dunia industri sebagai pengguna lulusan. Karena itu perlu menyelaraskan dengan KKNI dan SKKNI agar lulusan memiliki standart lulusan dan standart kompetensi kerja," tambah Nur Baladina.

Juga perlu evaluasi profil lulusan melalui tracer studi, apakah lulusan sudah memenuhi standar KKNI dan berapa persen yang sudah memenuhi standar KKNI.

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved