Breaking News:

Berita Malang Hari Ini

BEM Malang Raya Kutuk Pelaku Kasus Kekerasan Asusila dan Perundungan Siswa SD di Kota Malang

BEM Malang Raya mengutuk tindakan segerombolan pelaku yang melakukan kekerasan asusila dan perundungan kepada siswa SD di Kota Malang.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: isy
IST
Ilustrasi - Siswi SD Kota Malang, rok biru, dirudapaksa dan disiksa. Videonya viral di media sosial. 

Berita Malang Hari Ini
Reporter: Sylvianita Widyawati
Editor: Irwan Sy (ISY)

SURYAMALANG.COM | MALANG - BEM Malang Raya mengutuk tindakan segerombolan pelaku yang melakukan kekerasan asusila dan perundungan kepada siswa SD di Kota Malang.

"BEM Malang Raya mengutuk tindakan tersebut. Pemkot Malang dan aparat perlu menyikapi persoalan ini dan tidak bisa dibiarkan begitu," jelas Fahrurrozi, Wakil Koordinator BEM Malang Raya pada wartawan, Selasa (23/11/2021).

Dikatakan, kejadian tak bermoral tersebut menjadi pembelajaran bersama bahwa di wilayah Kota Malang masih banyak persoalan tentang isu perempuan dan anak yang masih minim edukasi dan sosialisasi. 

Karena itu, BEM Malang Raya mengajak kepada seluruh elemen yang ada untuk sama-sama mengampanyekan lingkungan tanpa perundungan.

"Isu perempuan dan perlindungan anak menjadi satu isu yang juga kami soroti. Atas kejadian ini, kami menyatakan bahwa BEM Malang Raya bersama korban," jelasnya.

BEM Malang Raya akan bersama dengan para pihak yang memperjuangkan isu perempuan dan perlindungan anak.

"Kami meminta agar pemerintah kota dan lembaga-lembaga lainnya dapat memberikan support yang sebesar-besarnya baik moril maupun materil untuk pihak korban," katanya. 

Terpisah Dosen Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Aprilia Mega MSi, menyatakan pelaku kekerasan biasanya ada di sekitar korban.

"Korban adalah orang yang dianggap lemah oleh pelaku. Adanya relasi kuasa dimana pelaku adalah orang-orang yang dominan yang dianggap kuat oleh korban, sehingga korban takut melawan," jelas Mega.

Maka korban perlu mendapat pendampingan psikologis oleh psikolog untuk diberikan psikoterapi atau terapi psikologi.

"Dan jika memang sangat berat dan membutuhkan terapi obat bisa dengan bantuan psikiater," kata Mega yang aktif di Pusat Studi Gender dan Anak UIN Maliki Malang ini. 

Akibat kejadian ini, korban bisa mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) yaitu perubahan perilaku menjadi takut berlebihan, atau juga gangguan emosional.

Ia sangat prihatin pada kasus ini setelah membaca beritanya di media massa.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved