Breaking News:

Berita Malang Hari Ini

IDAI Malang Rekomendasi Tatap Muka 100 Persen Bertahap, Siswa SD Disarankan Hibrid

Namun untuk anak usis 6-12 tahun sebaiknya tetap menggunakan metode hibrid. Yaitu 50 persen daring, 50 persen luring.

Kegiatan vaksinasi untuk siswa SD pada Desember 2021 lalu. 

SURYAMALANG.COM|MALANG-Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim perwakilan V Malang Raya Dr dr Harjoedi Adji Tjahjono Sp A (K) mengatakan pertemuan tatap muka bisa 100 persen jika guru, petugas sekolah sudah vaksin 100 persen sebanyak dua kali/dua dosis). Begitu juga dengan siswanya sudah mendapatkan dua kali dosis vaksin. 

"Kalau rekomendari IDAI Malang Raya sama dengan IDAI pusat. Meski nanti akan 100 persen, namun prokes tetap diawasi dan dijaga," katanya pada suryamalang.com, Selasa (4/1/2022).

Namun untuk anak usis 6-12 tahun sebaiknya tetap menggunakan metode hibrid. Yaitu 50 persen daring, 50 persen luring. Sedang untuk anak usia dibawah 6 tahun tidak dianjurkan.

Sekolah bisa memberikan pembelajaran sinkron dan asinkron. Hal ini sampai dinyatakan tidak ada kasua baru Covid-19 atau tidak ada peningkatan kasus baru.

"Anak-anak dibawah usia 6 tahun juga belum divaksin karena belum ada vaksinnya," kata dia. Maka IDAI menyarankan tidak semua melaksanakan tatap muka penuh atau 100 persen.

Sehingga bisa bertahap dilakukqn tatap mukanya. Sebab vaksinasi untuk anak usia dibawah 12 tahun mungkin belum tuntas semua.

Misalkan ada anak yang baru dapat kesempatan vaksin pada Januari 2022, maka vaksin kedua baru dapat Februari 2022. Maka disarankan baru ada tatap muka pada Maret 2022 menunggu kelengkapan semua.

"Sebab vaksinasi kan bergiliran," kata dia. Dengan kondisi sudah ada transmisi lokal Omicron juga harus diwaspadai. Sebab sudah ada dua kasus di Surabaya.

Selain itu, IDAI Malang Raya juga menerima laporan ada satu kasus anak pekan lalu terkena Covid-19. Adanya Omicron juga perlu perhatian karena penularannya lebih mudah/cepat.

"Di mulai di Afrika kemudian ke Amerika. Jangan sampai booming lagi jadi gelombang tiga. Nanti RS kuwalahan lagi. Pasien gak dapat tempat. Akhirnya banyak yang meninggal. Kan kita sudah sudah punya pengalaman itu.  Paisen banyak, RS gak mampu menampung dan banyak yang meninggal dunia," pungkasnya.

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved