Berita Malang

Pembina Halal Center Cinta Indonesia Sebut Sertifikasi Halal di Indonesia Masih Lemah

Dengan telah tersertifikasi halal ini, kata Prof Bisri memudahkan masyarakat mengenali produk tersebut halal atau non halal.

suryamalang.com
Pembina Halal Center Cinta Indonesia (HCCI), Prof Mohammad Bisri saat menjadi pembicara dalam kegiatan sosialisasi Sistem Manajemen Halal Internal (SMHI) yang digelar oleh Pemerintah Kota Malang, Senin (21/2/2022). 

SURYAMALANG.COM | MALANG - Pembina Halal Center Cinta Indonesia (HCCI), Prof Mohammad Bisri menyampaikan, bahwa sertifikasi halal di Indonesia saat ini masih sangat lemah.

Hal ini berbeda dengan negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand, yang sejumlah produk kulinernya sudah tersertifikasi halal.

Dengan telah tersertifikasi halal ini, kata Prof Bisri membuat masyarakat bisa mudah memilih produk tersebut halal atau non halal.

Karena dapat dilihat melalui label halal, yang sudah tertera di produknya.

"Indonesia lemah soal sertifikasi halal. Sedangkan di malaysia sudah halal. Karena halal ini sudah global," ucapnya dalam kegiatan sosialisasi Sistem Manajemen Halal Internal (SMHI) yang digelar oleh Pemerintah Kota Malang, Senin (21/2/2022).

Selama ini, mantan rektor Universitas Brawijaya (UB) itu telah mendampingi ratusan UMKM untuk mendapatkan sertifikasi halal.

Akan tetapi, lamanya proses pengurusan sertifikasi ini, membuat produk-produk makanan dan minuman di Indonesia belum banyak yang mendapatkan label halal.

"Dengan adanya label halal ini supaya jelas. Misalkan non halal yang diberi label, begitu yang halal juga diberi label. Artinya, jaminan halal itu, jaminan oleh negara, yang muslim nyaman kalau beli," terangnya.

Sebagai informasi, jaminan halal saat ini sudah diatur ke dalam UU Nomor 13 Tahun 2014 tentang jaminan produk halal.

Prof Bisri berharap, ke depan ada sebuah kepastian terkait kehalalan suatu produk agar menjamin kenyamanan bagi masyarakat.

"Saya sejak 2014 masih di UB itu sudah ngomong soal halal. Cuma prosesnya memang panjang, sampai hari ini masih seminar,"

"Maka dari itu, penjelasan bagi para pelaku usaha penting dalam memahami, alur dan mekanisme agar mudah mendapatkan sertifikasi halal," ucapnya.

Proses pendampingan pengurusan sertifikat halal bagi pelaku usaha juga melibatkan Halal Center di lima perguruan tinggi Kota Malang.

Lima perguruan tinggi tersebut, di antaranya ada Universitas Brawijaya (UB), Universitas Maulana Malik Ibrahim (UIN) Malang, Universitas Islam Malang (Unisma), Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Nantinya, para pelaku UKM yang akan mengurus sertifikasi halal, perlu memiliki self declaire atau pernyataan pelaku UKM melalui implementasi Sistem Penjamin Mutu Halal Internal (SPHMI).

SPHMI merupakan proses penetapan dan pemenuhan standar mutu halal terhadap pengelolaan suatu produk atau industri secara internal yang dilakukan dengan konsisten, berkelanjutan, sehingga stake holder (pemangku kepentingan) memperoleh kepuasan atau pemenuhan janji kepada stakeholder.

"Karena sertifikasi halal itu didasarkan atas pernyataan pelaku UMK, sebelum melakukan ikrar halal. Produk harus memenuhi mutu halal,"

"Sistem ini membantu prosesnya secara internal berkaitan dengan pemenuhan standar halal bagi produk yang dimiliki," tandasnya.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved